Akhir-akhir ini saya berada di tingkat selo yang lebih selo dari biasanya. Ditambah sedang dalam masa puasa, selo saya semakin mantap menancap. Selo yang
mbalelo ini membuat saya mengamati suatu akun twitter yang menarik di linimasa saya. Akun twitter itu bernama @agamajinasi.
He(or she, idk)'s an atheist. Cukup menarik cara dia berkelakar ngalor-ngidul tentang agama. Jawaban yang dia berikan untuk pertanyaan-pertanyaan tentang agama dijawab dengan pendekatan (yang terasa) logis. Lalu dari akun itu saya menemukan akun-akun lain yang juga secara terang-terangan mengaku sebagai atheist. Saya geleng-geleng saja.
Dari akun itu, saya jadi tertarik mencari-cari bagaimana Islam memperingatkan kita tentang hal-hal yang semacam ini. Saya tentunya tidak mau terjerumus begitu saja di dalam jawaban dia yang sedemikian 'menggoda' itu. Dari sana saya menemukan banyak hal, tetapi yang paling menjawab tanda tanya saya adalah:
"Barangsiapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya,sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya sehingga dia sesat dan menyesatkan."
Hal yang barusan sumbernya dari Shahih Jami'il Ilmi Wa Fadhlihi. Itu saja saya rasa belum cukup menjadi sistem filter kita agar tidak mentah-mentah menerima kelakar orang lain. Anda (tentu saja) boleh--dan harusnya-- mencari tahu lagi tentang hal-hal yang seperti ini.
Pengetahuan saya tentang agama saya, jujur, masih setinggi mata kaki. Tapi saya boleh dong belajar dan mencari tahu, juga mengingatkan sebatas yang saya tahu? Bukankah ada perkataan, "Sampaikanlah walau satu ayat." ?
-Yogyakarta, 15 Juli 2013.