Rabu, 27 Agustus 2014

Rahasiamu

Kau pandang langit dan menggumamkan sesuatu
tentang angan-anganmu yang awan
tentang suka duka dan kenangan-kenangan
tanpa menyiasati waktu, kisahmu kembali basah
menyungai; dalam ketulusan
mengalir, menghidupi segala di hilir
(apakah kau yang senantiasa merawat cerita
yang warna di sepanjang pematang senja?)

saat itu kepala dan hati tak terwakilkan kata;
bersamanya, kau tak perlu kata untuk telanjang
karena dengannya, kau punya suatu bahasa
yang seolah rahasia, agar kalian bisa berdua saja
(diam adalah bahasa semesta, dan kalian
adalah sepasang bisu yang saling mengerti)

kau pandang awan dan mendengarkan sesuatu
ada yang bermekaran di rahasiamu

-Yogyakarta, 22 Agustus 2014

Minggu, 10 Agustus 2014

Sajak Ibu Saya

Pandangmu sekilas
Dengan mudah menerawang
Meski aku menutup diri
           bagaikan mengatupnya jari jemari
Kau buka daku selalu
           helai demi helai
Seperti musim semi membuka
           daun bunga
           mawar pertama

Sajak ini saya temukan di buku resep masak dan catatan kuliah Ibu saya. Kasihan sekali sajak ini, saya pikir, sendirian di halaman belakang buku yang kertasnya sudah menguning ini. Saya temankan saja dengan tulisan saya di sini.

Sajak ini tidak ada judulnya, jadi saya beri judul posting ini 'Sajak Ibu Saya' saja. Saya membayangkan Ibu saya (yang mungkin) sedang bermekaran hatinya, seperti daun bunga mawar pertama di musim semi, saat menulis sajak ini. Saya setuju, sih, tatapan Bapak saya memang punya sesuatu. Tapi saya tidak ingat kalau Ibu saya suka memasak. Saya cuma tahu banyak buku resep masakan di rumah, dan buku ini salah satunya yang dalam bentuk catatan.

Saya pernah diceritakan Bapak bagaimana Bapak dan Ibu dulu menjaga jarak duduk ketika boncengan naik motor ketika jaman mereka pacaran dulu. Hahaha. Mereka pacaran juga ternyata. Tapi saya belum pernah diceritakan bagaimana awalnya mereka bertemu, dan tidak benar-benar bisa membayangkannya.

Halo, Buk, apa kabar?



-Yogyakarta, 10 Agustus 2014