Minggu, 15 Juni 2014

Di Puisiku

Aku ingin menulis tentang kerelaan

menulisnya lagi dan lagi hingga

ada senja yang hidup di puisiku


'kan ku pinjam huruf-huruf senja

ku rakit rupa warna-warnanya

agar kau dan senja berbagi

tempat dan makna di puisiku


setelah selesai akan kau bacakan

untukku, lirih dan perlahan

hingga datang malam di puisiku


-Yogyakarta, 15 Juni 2014.

Minggu, 01 Juni 2014

Malam di Jendelamu

Malam itu, ada tenang yang tidak asing saat kau menatap jendela.

Seperti hujan dan matamu, malam memiliki sihirnya tersendiri. Yang tidak perlu kau lakukan adalah bersusah mencari dan bertanya; yang perlu kau lakukan adalah menutup matamu dan menarik napas dalam-dalam. Lebih dalam, hingga sayup senandung sungai di kepalamu kembali terdengar. Setelahnya, ketika kau kembali melayangkan pandang pada jendela, 'kan terbaca doa-doa dengan tinta berwarna malam, untukmu. Doa-doa baik yang tak berisik.
Terkadang, dengan sengaja kita membiarkan malam mencuri dengar dan mencatat doa-doa kita. Karena pada kala tertentu, melalui malam, kita perlu saling mengingatkan: aku dan kamu tidak benar-benar sendirian. Sepi adalah kesendirian yang kita ciptakan.

Kita percaya, tak ada pesan yang tak disampaikan malam kepada yang membaca dan yang berkaca. Dan aku berdoa agar doa-doa baik ini menemukanmu sedang tersenyum memandang malam di jendelamu.


-Yogyakarta, 1 Juni 2014.