Selasa, 31 Desember 2013

-

Setelah apa yang perlu diterima telah diterima, tak ada lagi yang perlu dilakukan selain mengikuti alur daur waktu. Di dalamnya, pagi disusun kembali. Hari baru menanti.

Begitu, kan?

  
" "but don't look back in anger,"  I heard you say. "



-Yogyakarta, 26 Desember 2013.

Selasa, 19 November 2013

Di Musim Hujan, Ada yang Menanti dan Dinanti



Dari Atlantik melintas Pasifik
Meniti warna-warna
Yang mengira mereka adalah laut

Aku sibuk membunuh jarak
Sedang kau selalu merangkai kata
Menyusun replika awan
 
Aku mungkin datang esok
Atau nanti petang
Kala luruhku menemukan sajakmu
Dengan nanar, juga memar
Yang kau dapat dari
Dua sisi mata pisau dunia;
Sandiwara dan kenyataan

Aku mungkin datang esok
Atau nanti petang
Kala kudapati gelas kopimu
Di bibir jendela, dingin
Menanti tubuhku luruh
Membasuh lingkar sepi
Memberinya sebuah tepi

Lalu menumbuhkan bibit  sunyi.

-Yogyakarta, 17 November 2013. Kala musim penghujan mulai ramai.

Selasa, 27 Agustus 2013

Sea Sick

Have you ever wondered, what's inside the deep blue sea?

perhaps some mermaids got some ecstasy

big whale swallow you whole, tore apart your you-can-see

like the tale of the prophecy

no, we're not going to the deep. We're just gonna let the rhymes flow

oh, hey glow, why don't we take it slow?

maybe we'll get high with the mermaid

or, maybe, weep the whale some aid?


We're not being high, you see

We're just take our boat to the sea

Spread our head along the windblows.


-Yogyakarta, 25 Agustus 2013.

p.s. : Longing for a holiday at beach, maybe, is a sea sick for me.

Arctic Monkeys - Cornerstone



I like this Arctic Monkeys' videoclip. It's like, a strange story, from a strange person, being told with a strange way too.

Jumat, 16 Agustus 2013

Kepada Rumah, Dari Perjalanan

Pada rumah-rumah kata
dimana pembicaraan hangat diseduh
tempat tepat jatuh sauh
jauh.

Pada halaman-halaman mata
ladang tumbuh berbagai aksara
telaga tanpa angkara.

Pada pulang aku berkata,
Kini kau menang.


-Yogyakarta, 16 Agustus 2013

Jumat, 26 Juli 2013

Membaca Notasi Rotasi

Kali ini, aku dalam buai senja

terjadi maka terjadilah

tak lagi lupa atau alpa


Dalam buai senja,

aku memaafkan

(dan menerima)

ia hilang.


Ah, Bulan Purnama!


-Yogyakarta, 26 Juli 2013.

Minggu, 14 Juli 2013

Jurnal Di Tengah Masa Senggang

Akhir-akhir ini saya berada di tingkat selo yang lebih selo dari biasanya. Ditambah sedang dalam masa puasa, selo saya semakin mantap menancap. Selo yang mbalelo ini membuat saya mengamati suatu akun twitter yang menarik di linimasa saya. Akun twitter itu bernama @agamajinasi.

He(or she, idk)'s an atheist. Cukup menarik cara dia berkelakar ngalor-ngidul tentang agama. Jawaban yang dia berikan untuk pertanyaan-pertanyaan tentang agama dijawab dengan pendekatan (yang terasa) logis. Lalu dari akun itu saya menemukan akun-akun lain yang juga secara terang-terangan mengaku sebagai atheist. Saya geleng-geleng saja.

Dari akun itu, saya jadi tertarik mencari-cari bagaimana Islam memperingatkan kita tentang hal-hal yang semacam ini. Saya tentunya tidak mau terjerumus begitu saja di dalam jawaban dia yang sedemikian 'menggoda' itu. Dari sana saya menemukan banyak hal, tetapi yang paling menjawab tanda tanya saya adalah:
"Barangsiapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya,sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya sehingga dia sesat dan menyesatkan."
Hal yang barusan sumbernya dari Shahih Jami'il Ilmi Wa Fadhlihi. Itu saja saya rasa belum cukup menjadi sistem filter kita agar tidak mentah-mentah menerima kelakar orang lain. Anda (tentu saja) boleh--dan harusnya-- mencari tahu lagi tentang hal-hal yang seperti ini.

Pengetahuan saya tentang agama saya, jujur, masih setinggi mata kaki. Tapi saya boleh dong belajar dan mencari tahu, juga mengingatkan sebatas yang saya tahu? Bukankah ada perkataan, "Sampaikanlah walau satu ayat." ?


-Yogyakarta, 15 Juli 2013.

Sajak-Sajak Yang Bernafas Laut

Dari mata di laut jauh

Aku akan tetap (dan selalu) disini

menikmati denyut ombak di sela kaki

beberapa sampai di dinding kering hati;

beberapa lagi, dengan nafas yang tertatih,

pulang sebagai buih


Dari jauh kau akan datang

dan aku takkan melepas pandang.



-Yogyakarta, 5 Juni 2013.

Senin, 24 Juni 2013

Rumah (ken)Angan

Rumah kita cukuplah sederhana saja, tak perlu begitu rinci

Tak perlu gembok, agar tak perlu kita bergantung pada kunci

Gudang dan kebun terisi, tak ada ruang simpan tumbuh benci

Dapurnya selalu harum dengan kepulan aroma dari panci

Tak perlu melulu tirai ditutup, karena kita bukan yang paling suci

Rumah dimana setiap pelukannya tak perlu disimpan di laci

Aku dan kamu akan membentuk rasi Fibonacci

Dimana selamat tinggal selalu sehangat selamat datang


-Yogyakarta, 24 Juni 2013.

Sabtu, 15 Juni 2013

Colour of the Trap

I am ensnared
In somewhere between
blue--or red?
Such a prone revulsion

Unsparing gasp
In every tale
About fracture
And how to veil

Why don't old heart
Emerge and offer
Redemption, or hurt
As a dope; an over?

For thee have none
Left for I alone
Strand, leave a grave
Like I was misbehave

Thee shall do none
As lies has endure whole
Trenchant leaves to postpone
From raining the pit hole

I, an ensnared stray
Beseech and whisper
In a colour of leftover
Pathetic endeavor

-Yogyakarta, 15 Mei 2013

Selasa, 11 Juni 2013

Yang Dulu, Yang Lalu

Saya menemukan beberapa tulisan lama saya di internet. Saya menemukan ini di blog mantan pacar saya. Lucu sebenarnya, haha. Saya akan membaginya kepada anda dalam rangka memperingati tanggal 11 --hari ini. Kenapa tanggal 11 harus dirayakan? Saya punya alasan tersendiri hehe. Sudah baca saja, ya.



The One

This world was so wrong before you come and hold my hands
Pull me up from the deepest pit called sorrow
Show me the way back home
Show the colors on the sky that’ll appear after a great storm

That was why I won’t regret my choice
Even it’ll brings me to another pit, I don’t care it so much
‘Cause I know you’ll come and bring me back to life
And you know I’ll do it for you too, right?

I’ll give anything you need, even it’ll take away my soul
I’ll face the blizzards
I’ll face the frustration
I’ll take down your shadow and mine
So there’s only you and me

Nothing can stop me to draw a smile on your face
A thousand arrows will take away my life, but it won’t take my soul
‘Cause it’s yours already
Hey, please don’t drop those tears
I’m here on your side
I’m here right beside you

We’ll face the driest desert together
Soon we’ll found a pond and the way back home

I won’t sleep and have a dream
‘Cause my sweetest dream is already come to life and stand in front of me
I won’t run away from the life anymore

I’ll do my best, I’ll do the hardest to make you stay and accompany me
We’ll write an epic story called life, yes I know we will
Even I know I don’t have the right to make you mine
Knowing that you’re the brightest star from any other shining stars
So please spend some of your time with me

Hold your tears, hold your screams
I’ll sow that life isn’t over yet

Because you are my everything

So please smile to me and the world 


Tapi Waktu Di Saat Bersamamu

sungguh menyenangkan berada di sini
di antara kerumunan para tua muda, pelapar dan pencerita
habiskan waktu sekadar berbincang
dan menertawai hal sepele

kadang kau tersenyum, kadang kau tertawa
kadang kau diam, kadang kau cemberut

akupun ingat wajahmu yang kadang memerah entah kenapa
tapi sungguh, itu menggemaskan

mainkan penamu di atas lenganku
merangkai garis yang bahkan aku tak tahu itu

lalu kau tersenyum, kau tertawa lagi

mungkin bukan tempat ini yang sebenarnya kusuka
tapi waktu di saat bersamamu

Yang Terbang, Menjadi Kata, Hinggap di Mata, Lalu Hilang

Senja hilang berlalu dari bingkai yang layu
Semesta kini sewarna esa
segulita bola matamu

Kini tersisa aku juga sisa kau
Yang berbagi bayang pada cermin pun tak mau
Karena sisa kau
Tinggal sisa, hanya abu asa
Air mata di segara, kering di kemarau

Aku, sisa kau; kita
Tinggal sisa
Sia-sia.

-Yogyakarta, 11 Juni 2013.

Di Suatu Kafe yang Kehilangan Namanya

Gelas ketiga
Dawai-dawai sepi sumbang menggema
Ini ruang tak mau lengang
Sedang waktu tak mau tahu

-Yogyakarta, 10 Juni 2013.

Senin, 27 Mei 2013

Mendukai Luka, Melukai Duka


Kepala-kepala itu mendangak, terlalu malas meraih ujung kata ‘bagaimana dengan aku’ tapi lantang seakan lancar berkelakar ‘ini duka tak peduli walau luka kau pantas dengan neraka’. Kepala-kepala ini kelilipan, hingga tak melihat mata-mata yang lebih basah dari laut. Mata-mata yang di dalamnya waktu mendadak acak. Mata-mata yang sebelumnya lebih hangat dari pertemuan-pertemuan yang kau harap lebih lama, sekarang lebih dingin daripada pualam-pualam pemakaman. Mata-mata yang harus melihat sepasang mata dimana semesta mereka berpusat, menutup lebih cepat, karena kepala-kepala yang haus menghujat.
*
Sungguh, ada batas-batas yang belum kita lewati, belum kita dekati,belum kita sadari. Tapi, terkadang, nafas terlalu tipis, lebih dulu habis sebelum kita mampu memulai. Darah terlalu beku, terlanjur kaku sebelum diri mau menyadari. Ada pula batas-batas yang baru mampu kita iyakan dari batas akhir nafas darah orang lain –tentunya bagi mereka yang memandang tak lebih dari merasa.

Janganlah kepala timpang karena mampu menyebar obituari, buatlah hati merasakan lebih banyak dari yang kita baca.

-Yogyakarta, 26 Mei 2013

Berlangganan Kenangan


Setiap pagi, di depan pintu, selalu ada koran yang selalu mengaku tak lagi terbit esok hari

Halaman depan berkata hujan akan turun walau keberaniannya hanya sebesar ibu jari

Pada halaman 11 selalu muncul obituari, iklan es krim, dan berita kehilangan

halaman 24 ini menyakitkan, tanda tanya ada pada semua kalimat sebagai akhiran

Kata-kata di dalamnya bertanya-tanya tentang sesuatu yang tanpa titik temu

Lalu mata kita tertulis dalam satu paragraf rumpang yang tak saling bertemu

Prakiraan cuaca benar, hari itu awan tak berani turun satu-satu

Sedang saya tak lagi berani membaca huruf-huruf rindu satu-satu.

-Yogyakarta, 24 Mei 2013.

Sabtu, 25 Mei 2013

Hari Ini Saya Dinyatakan Lulus SMA, Lalu?

Di suatu tempat, seorang tua sedang menunggu loyang dengan pizza yang bermekaran. Tak jauh dari sana, seorang muda sedang menunggu bunga dagangannya layu.

Di bawah terpal berwarna oranye suatu angkringan, seorang perantau setengah baya dari timur dirundung bingung karena sudah terlalu larut bagi bus untuk membawa ia kepada orang tua angkatnya. Ia bahkan lebih bingung lagi saat membuka isi dompetnya. Motor-motor muda produk Jepang di jalanan ini terlalu arogan untuk peduli dengan ceritanya.

Di samping saya, teman saya Putra Anggita sedang melahap angka atau apa saja yang ada di dalam buku dari tempat bimbingan belajarnya --akar dari ilmu juga pangkat dari fungsi pusingnya. Saya asyik saja mengetik tulisan ini atau melahap apa saja di internet --menghabiskan dan membuang waktu.

Kapan belajar, Alan?


--Yogyakarta, 25 Mei 2013.

Minggu, 19 Mei 2013

Catatan Yang Kau Temukan Pagi Ini

Sudahkah kau meminum kopi hangat di daun jendela kamarmu pagi ini?
Saya yang menyeduhnya. Katamu itu kopi favoritmu, kopi buatan saya. Kau bilang kopi yang saya seduh misterius dan sukar ditebak. Saya tidak mengerti maksudmu. Tapi saya yakin kali ini rasanya pasti; manis. Saya beri kopi itu gula lebih banyak dari biasanya agar rasanya semanis kenangan.

Sudahkah kau memperbaiki sobekan di sweater hadiah dari ibumu?
Kau sedih karena sweater itu sungguh sehangat pelukan ibumu. Saya juga sedih karena sweater hadiah dari saya malah kau sembunyikan di dalam lemarimu, entah kenapa. Saya mengingatkanmu karena kemarin, menurut ramalan cuaca, cuaca dingin akan datang dan sedikit membuat repot. Jangan jatuh sakit. Segera perbaiki sweatermu, atau cari jaket-jaket hangat lain. Karena sweater dari saya mungkin sudah bolong-bolong dimakan waktu.

Sudahkah kau mencuci pakaianmu?
Iya, saya belum jadi mencucikannya seperti yang kau minta pada saya. Saya harus menulis catatan ini, lalu saya harus membeli koper karena kita hanya punya satu koper. Untuk apa saya beli koper lain, nanti kau akan tahu. Saya juga harus menduplikat kunci motor saya yang kau hilangkan kemarin lusanya. Belum lagi luka-luka lama saya yang harus saya rawat sendiri. Hahaha, iya, saya pintar mencari-cari alasan. Saya akan mengurangi kebiasaan ini, karena saya tidak ingin memunculkan alasan-alasan untuk mengingatmu.

Sudahkah kau mengunjungi karnival di kota?
Malam nanti karnival masih ada. Jika belum kesana, tolong beritahu saya kapan kau akan kesana. Tidak , saya tidak bermaksud mengajakmu kesana bersama saya, saya bermaksud memilih hari lain dari hari kau akan kesana. Tempat itu seharusnya didatangi untuk berbahagia, bukan untuk bernostalgia.

Sudahkah kau mengambil dompetmu yang tertinggal di rumah mantan pacarmu?
Kau adalah orang pintar yang saya kenal yang paling sering meninggalkan barang bawaanmu di tempat orang lain. Kau adalah orang yang mengingat setiap kata dari kalimat pembuka Karl Marx di Communist Manifesto --kau selalu bersikeras Karl Marx tenar karena kalimat pembuka itu--, tapi kau selalu lupa membawa pulang barang-barang bawaanmu.
Saya takut selama ini Karl Marx bersembunyi didalam kalimat pembuka itu, lalu diam-diam malah mendirikan negara kapitalis yang memonopoli kapasitas ingatanmu, lalu merampas rumah saya di ingatanmu. Ah, maksud saya, kau harus adil terhadap ingatanmu. Kau juga harus mengingat hal-hal yang perlu kau ingat, karena saya tidak bisa terus menuliskanmu catatan-catatan pengingat seperti ini. Saya takut jika kau menjadi seperti saya --pengingat dan pelupa sekaligus, yang kecanduan catatan. Saya bahkan hampir lupa jika saya menulis catatan ini agar saya tidak lupa mengambil kembali hati saya dari dalam hatimu.

Sudahkah kau tahu saya seorang egois?
Ini bukan pengingat, tapi saya merasa perlu menyertakan ini dalam catatan. Saya mungkin terlihat sungguh egois, karena saya memang egois. Saya seperti seseorang yang hidup di daerah rawan bencana tapi bersikeras tetap tinggal di rumah yang rentan runtuh; saya memaksa tinggal di sisa-sisa selamat tinggal yang kita ucapkan. Tapi untuk kali ini luka dan akal sehat saya bekerja sama, berbicara lebih keras dan jelas. Saya sadar rumah ini bukan tempat saya seharusnya berada. Rumah ini tidak lebih dari sekedar kenangan. Saya akan membangun rumah saya sendiri. Saya akan menggunakan beberapa bagian dari rumah kita agar rumah saya lebih nyaman dan kokoh kelak, bagi saya dan kamu atau bagi saya dan siapa saja. Waktu akan menjawab.


Sudahkah kau sadar saat kau membaca catatan ini, saya (sudah / sedang dalam perjalanan) pergi?
Untuk itu saya perlu koper dan kunci motor saya. Waktu sudah menjawab satu pertanyaanmu, tunggu ia menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya.


-Yogyakarta, 17 Mei 2013.

Mengutuk Mata

Tak jua habis seluruh
tak habis pula tak utuh
Datang dengan mengendap
atau lari berderap
Dia; kata-kata senyap

Ini sajak bukan rindu; hanya tiga petak
residu malam-malam mendung
Karena dua pasang kelopak
di utara dan selatan telaga berkabung
Disela sesak
hingga tak kunjung saling berkunjung

Tak jua habis seluruh
tak habis pula tak utuh
Malam tinggal sejengkal ukur
sedang kantuk masih sejauh syukur

Kapan aku bisa tidur?

-Yogyakarta, 18 Mei 2013

Senin, 13 Mei 2013

A Tasteless Breakfast

There will be time where we stumble
And fall, then another stumble.
Yet you might still have another fall and stumble
Until the very end of breaths.

There will be time where we ask for hands
Who help us stand up and give hugs.
But then we got nothing but embrace from cold air
Or a wrap of white fabric, then sealed inside a digged dirt.

But there is more than it looks,

There will be time where we laugh
So loud it is, way much louder than town traffics
And you (un)awarely wish the time stood still.
You even will tell your memory to live there.

There will be time where we accept what we get instead of what we want
After a season or more of wait, after a phase inside a life cycle
There you realize what is called the beauty of patience.

But we can't keep time for ourself
We can't stop time.
Like life itself, it's God's right and we absolutely cannot lay our hands on it.
But God gaves us mind to remind ourself the sweet of sweat that came out from patiences.

When you get hurts, world won't stop to fix your wound.
But believe this,
Hurts is what make us reach the essence of happiness.

Don't waste your time to reveal the meaning of life
'Cause life is nothing but a bowl, and how we live is how we would fill it.
And a bowl full of elegy is the most cruel meal for breakfast.

-Yogyakarta, Mei 2013.

------------

Sampai bertemu lagi, kawan. Saya akan ceritakan sarapan yang lebih tidak hambar dari pagi ini ketika kita bertemu. :)

Kamis, 09 Mei 2013

Re-(forget/member)-ing

Di suatu tempat di dalam kepala saya, Ingat dan Lupa adalah sepasang kekasih yang sedang ribut berebut sudut di pikiran saya. Saya akan pelan-pelan belajar menengahi mereka dengan membagi porsi yang tepat bagi masing-masingnya. Saya akan mengingatkan diri saya; kesepian adalah kebohongan yang hati saya pelihara, lalu perlahan melupakan makna rindu sebagai kamu. Saya akan melupakan luka, lalu mengingat-ingat dimana saya mendapat luka itu. Saya akan ingat dan lupa sekaligus. Kalimat barusan terdengar lucu; seperti senyummu. Ah, lihat bagaimana buruknya saya menjaga ingatan? Saya perlu dan akan belajar.

-Yogyakarta, Mei 2013.

Senin, 29 April 2013

How Adhitia Sofyan Says Good Bye On September

Hello, dear people. :)
At this occasion, I'm going to share you a song from Adhitia Sofyan titled September. It's kinda mellow and get-you-to-the-blue song. Well, at least it makes me in that kind of blue, don't know how it would be going on you. When I hear the song, it's like it tells me a story about a pair of lover make their farewell and how they let it go. You know, it is happens to us (so did to me). It is our choice to hold on or just let it go, not because you don't love them anymore but you know it is the time to end it up. Wew, better end my explanation before I'm starting to talk about my story, ha! I write down the link to youtube and the lyric too. If you wanna know more about Adhitia Sofyan and his music you can visit his wordpress site here or find his channel at youtube. Enjoy. :)

I met you in the city of the fall
One September night
We sat down on the table near the wall
Where conversation flows

I wonder if I could stay for a while, you see
Its been a while since I felt this way
But, we both now time is closing in
Till I’ll be gone
You’ll be too
On that night I saw you walked away

I left you in the city of the lights
That breeze September night
We walk down the road to the end
I wished the time stood still

I wonder if I could stay for a while, you see
Its been a while since I felt this way
But, we both now time is closing in
Till I’ll be gone
You’ll be too
On that night I let you walked away

I met you in the city of the fall
One September night


Jumat, 26 April 2013

Farewell Along the Seasons

Don't meet me again at the spring park, sugarbox;
along with your favourite sky-colored dress.
Don't greet me with your enamor smiles and then just tell a goodbye;
'cause I know how those words would hurt like.
Don't tell me that lame 'Isaac and his apple' joke;
'Cause I know the joke will say that we aren't destined like Isaac and his apple;
we aren't suppose to be.

Summer toast the air like there's no tomorrow;
scattering all my mind and words.
So I keep myself at home, undare the world.
As I sprawl on my bed, I wonder;
if I lay here, if I just lay here;
would you lie with me and just forget the world?
  
To live a life where you leave before the leaves leave;
from a least-crowned tree at the bottom of autumn.
When the wind blows them gone, I thought I won't care where or how it goes.
It's really not about how to make puzzle from the leaves;
it's how to see how half of my sense crumbling along then tell myself I'm fine.

I might mistaken snowflakes in your howling eyes at the winter;
they're colder than how they really are, though.
I can't withhold the freezing that penetrate into my heart;
and waching how those snowflakes would melts and drips.
The snow or your eyes, which one would melt now?

It's cruel as how the seasons tell me I'm trying to let you go;
but keep insisting to form as you.

Rabu, 24 April 2013

Dua Berita Singkat Aktual Dari Dunia dan Kita

(i)

UN berjalan dengan apa adanya, sementara penyelenggaranya meminta maaf seakan dibalik mereka ada apanya. Dan aku masih tidak mengerti kenapa kita berjalan apa adanya sementara aku tidak tahu di hatimu ada apanya.

(ii)

Teknologi semakin maju, sementara penggunanya lupa diri hingga semakin mundur. Dan aku tidak mengerti kenapa kita menyejajarkan ragu untuk maju dengan tak rela untuk mundur.

-Yogyakarta, 2013.

Sabtu, 13 April 2013

Pertemuan-pertemuan kala hujan

(i)

Kita adalah pertemuan-pertemuan di kala langit gelap seluruh;
yang kemarin diberitakan dengan yakin oleh seorang peramal cuaca di televisi.
aku yakin ia yakin dengan apa yang ia yakini;
melebihi keyakinan para ekstrimis-ekstrimis anarkis yang sebelumnya diberitakan.

Tidak seperti mataku matamu, yang terlalu ragu untuk sekedar bertemu;
karena masing-masingnya mabuk sendu, menolak rindu.

Kita adalah pertemuan-pertemuan di kala langit gelap seluruh;
yang sejak sejam lalu berbisik rintik lirih-lirih;
Membicarakan kita, atau barangkali membicarakan kamu saja.
Kalau kau cukup peka, sebenarnya rintik cukup berisik untuk sesuatu yang hanya mampu berbisik.

Tidak seperti mulutku mulutmu, yang bahkan terlalu bisu untuk sekedar berucap;
"aku rindu kamu".

Kita adalah pertemuan-pertemuan di kala langit gelap seluruh;
yang akhirnya lelah melawan, lalu rela mengalah;
menjadi apa seharusnya ia, serbuk hujan, tumpah ruah.

Tidak seperti hatiku hatimu, yang tak kunjung jera menahan kata-kata yang tak terucap.

Pada akhirnya, tak ada aku;
pun kamu;
pula aroma lembab debu-debu kenangan;
tapi dingin hujan.


(ii)

Orang-orang bijak selalu berkata, semuanya mempunyai akhir;
pun pertemuan-pertemuan singkat ini.

Kepada laut kita menunggu;
daur-daur awan untuk kita kembali bertemu.



-Yogyakarta, 2013.

Kamis, 04 April 2013

Ruang terang yang sedang saya kenang


If you were a lollypop that so sweet and smooth
Then I'll be the stick that stuck in you
If you were a sea, so flat and blue
Then I'll be the beach, nothing can separate me from you
If you were a rose that grows wild and everybody admire on
Then I'll be the branch gonna help you standing on

Can't you see? Can't you believe?
That all I want is you
The only one I hope to here with me
The only one I need is you

If I was a baseball ball, so small but have a lot of watcher
Will you be the catcher and save me from falling over?
If I was the sinner that only do mistake
Will you be the angel and tell me which one is right?
If I was the moon that tried so hard to reflect the sunlight
Will you be the stars and stay with me all night?

Won't you see? Won't you believe?
That all I want from you is here with me
Get me through the storm, and toghether see a rainbow that'll appear soon after
Yes, all I really want is YOU :)
Tulisan yang baru saja anda baca adalah catatan yang saya tulis di akun facebook saya. Tulisan itu kalau tidak salah saya tuliskan ketika saya kelas sepuluh SMA. Saya --mungkin-- sedang jatuh cinta waktu itu. Saya selalu tertawa kecil-kecil ketika membaca tulisan saya ini, betapa lucunya saya waktu itu. Seorang remaja yang baru menginjak masa SMA, lalu mengalami masa penuh aku-kangen-kamu yang tidak tersampaikan. Iya, saya tidak menyampaikan perasaan saya kepada orang yang menjadi mata air tulisan saya  tadi. Alih-alih, saya malah membuat gambar dengan pesan tersembunyi --seperti perasaan saya yang tersembunyi-- untuk dia.
Gambar saya inipun hanya saya unggah di akun facebook saya, tidak saya berikan kepada dia.

Saya tidak ingin menceritakan bagaimana cerita yang terjadi antara saya dan dia. Saya mungkin malah tidak punya cerita dengan saya dan dia sebagai tokohnya. Saya hanya ingin berkata bahwa ini-itu yang saya lakukan waktu itu tidak menyebabkan saya terjerat penyesalan ini-itu-yang-seharusnya-lebih-dari-ini-itu ketika saya memikirkannya kembali. Maksud saya, saya tidak menyesal. Saya tidak menyesal tentang apa yang telah terjadi. Sekarang saya pun bersyukur saya tidak menyesal.

Saya kemudian menjalin hubungan dengan orang yang mencintai saya, pula saya cintai. Kami akan merayakan dua tahun hari jadian kami sekitar tiga bulan lagi. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dua tahun mengajari saya banyak hal. Dua tahun memiliki cukup ruang untuk saya memikirkan kembali apa yang sebelumnya, sedang, dan akan terjadi pada kami. Beberapa bagian ruangnya membuat saya sadar bahwa hal baik, dengan berbagai cara, pasti akan menghampiri saya. Tentunya hal jelek akan hadir bersamanya. Dan dua tahun tidak menyisakan ruang untuk saya menyesal. 

Banyak hal akan terjadi, dan waktu kelak akan menyadarkan anda bahwa penyesalan adalah ruang-ruang gelap yang serupa ogre haus cahaya. Ia berbentuk jelek, pula menghisap hangatnya sinar dari waktu-waktu bahagia anda. Percayalah, hal-hal baik akan terjadi pada anda. Pergunakan ruang yang diberikan waktu anda dengan bijaksana. Lalu berbahagialah. :)

Hal-hal sepele dalam perkenalan

Halo!
Perkenalkan, nama saya Yudha Maulana Ahmad. Umur saya saat ini 18 tahun lebih 30 hari. Saya memberdayakan blog ini untuk mengingatkan diri saya bahwa beberapa hal lebih baik dituliskan. Oh iya, mungkin menambahkan umur anda dengan satuan hari adalah hal sepele. Tetapi, hal-hal sepele merupakan alasan saya membuat blog ini. Karena terkadang, dalam berbagai bentuk, hal sepele adalah cara lain Tuhan mengingatkan kita untuk bersyukur dengan apa yang ada di sekitar anda. Untuk hal-hal sepele lainnya disini, saya ucapkan selamat menikmati. :)