Kamis, 17 Mei 2018

Untitled, 15/5/2018

lihat, burung baru bisa dibilang burung
setelah mereka terbang di langit
sunyi memberi bunyi makna dan sebaliknya
sedangkan pertemuan dan perpisahan:
pohon-pohon tua dan bayangan yang setia
(tidakkah kau melihatnya sekarang?)

sementara aku,
yang kutahu tentang merasa utuh
adalah saat tanganmu menyambut genggamku
erat dan tulus, tanpa perlu kata-kata,
(pernahkah aku merasa sedemikian damai?)
atau saat dalam dekap, seakan saling membisikkan
rasa aman dengan degup jantung masing-masing,
atau beberapa detik itu, ketika mata kita bertemu
sebelum kemudian terpejam dan bibir kita
menulis puisi di tubuh satu sama lain.

kuberanikan diri bertanya, walau
tak yakin akan tahu jawabnya:
apakah telah hilang pulangku?

(dan masih bisa kulihat warna bola matamu
pada siang itu setiap aku menutup mata)

kiranya benar kata penulis itu,
hidup teramat pendek dan ingatan
teramat panjang. dan seandainya
tak bisa kurasakan lagi selama hidup,
bolehkah aku sebisanya mengingat
pulang di ruas jemari tangan mungilmu,
puisi purba yang kukecup di bibirmu, rumah itu
yang akhirnya kutemukan diantara dua lenganmu?

(dan kuberanikan diri bertanya
walau tak yakin ingin tahu jawabnya:
bolehkah aku terus berharap?)




-Yogyakarta, 15 Mei 2018