Minggu, 27 Agustus 2017

Merah dan Biru

kau mungkin tak mengerti, tapi
aku selalu membayangkan diri sebagai
laut, atau puisi yang marah
atau segala yang tak rapuh; diri
sendiri yang kuingkari dan kau amini

hidup dan ketidaksempurnaannya
terus bergerak dengan atau tanpamu, waktu
bukan ibu dan beberapa lara tinggal dan
tidak membiarkanmu lupa, menjadi bekas
luka; pengingat bahwa kau benar-benar hidup

namun, sungguh, aku marah terhadap
segala dan apa dan entah dan diri sendiri
kau tak mengerti, tapi aku akan marah
dan terus marah hingga pada suatu hari
seisi kepalaku meletus, berhamburan
menjadi kembang api di tengah badai

mungkin kemudian kau akan mengerti.


-yogyakarta, 12 juni 2017