Rabu, 26 Juni 2019

melamun, 3



nanti bila kau dengar: kau pun menjadi saksi daun-daun menghijau menguning. cemasmu yang meraba bayang di langit-langit kamar saat lampu dimatikan. dadamu yang menghirup udara asin di hadapan laut lepas sebelum segera merunut kembali dan menyadari: betapa fana, betapa sia-sia semua upaya berdamai dengan kesendirian.


namun yang dipandang bulat dengan mata keponakanku pun matamu juga. yang menemukan suara untuk yang tak fasih kau ungkapkan pun lagumu juga. yang tawar-menawar dan bersiasat dengan dunia yang serba tak masuk akal ini pun harapanmu juga. yang pada akhirnya terbisik dan pasrah pun doamu juga.


sebagaimana seluruh aku pun milikmu; nanti bila kau dengar ceritaku, aku harap kau tahu ini ceritamu juga.



-Yogyakarta, 26 Juni 2019

Senin, 06 Mei 2019

lyrics for a song about Genesis


i don't have names for these colors on the ceiling
but i know the storm's drawing near as anything else fading
casting long shadows, can you hear their voices?
the flood is rushing but i refuse to crack
eyes wide open, the world on my back

well how are you and your fear?
do you even remember why you're here?
the silence is deafening, but only then i can hear
the flood is calling but i refuse to disappear
stealing breaths before the plot begins to stir

the flood is calling
the flood is calling
the flood is calling

well does it matter if i tell you why?
do you still confuse the scar for a lie,
her hands for a home, words for an eye?
there is a river in my vein, so let the water remember
how we have been brave but to the flood we must surrender

the flood takes all but i got nothing left to lose


-Yogyakarta, 6 Mei 2019


Senin, 25 Maret 2019

The More Loving One

by WH Auden

Looking up at the stars, I know quite well
That, for all they care, I can go to hell,
But on earth indifference is the least
We have to dread from man or beast.

How should we like it were stars to burn
With a passion for us we could not return?
If equal affection cannot be,
Let the more loving one be me.

Admirer as I think I am
Of stars that do not give a damn
I cannot, now I see them, say
I missed one terribly all day.

Were all stars to disappear or die,
I should learn to look at an empty sky
And feel its total dark sublime,
Though this might take me a little time.

Jumat, 28 Desember 2018

catatan akhir 2018

tidak banyak yang ada di meja:
ketapel usang, kuas-kuas kaku
selembar kehidupan terbingkai, membeku
selebih itu adalah segala hampa diantaranya

pernah aku mencari diriku
diantara ingatan akan kata-katamu
atau di sisa hangat genggam tanganmu
tapi aku yang itu lumat juga,
di dalam jam pasir menjadi debu
terbentur, terbentur, terbentur, terbentur
terus begitu, entah sampai kapan

mungkin hidup tidak benar bertambah buruk
aku hanya melihatnya dengan lebih jujur
satu persatu, muslihat harus disingkap
sebuah permainan melepas dan menangkap

aku tahu ada lautan di dalam diriku
dan sungai kecil yang mengenal namamu
tapi aku tak ingin sekedar bertahan hidup,
berada di ambang bernapas dan tenggelam
aku menginginkan kehidupan
(atau tidak sama sekali)


-Yogyakarta, 28 Desember 2018

Senin, 22 Oktober 2018

Dear Catherine,


(taken from Her)

Recently rewatched Her (2014). It's actually doing the movie injustice, you know, to take this scene apart from its context. But this scene.. you can't help but feel its sincerity, the hard-earned resignation that Theodore finally came to (is resignation the correct word?). Well, he doesn't have any other choices left, does he?

Actually, yes, Theodore still had many other choices; he could be angry, he could be bitter, he could have done any other worse things. But he didn't, maybe knowing it won't bring any good to anyone including himself, maybe knowing how futile of an effort it would be, maybe.

(Okay, yes, that is me projecting myself into Theodore, sorry, can't help it.)

All in all, Her is a heart-wrenching yet warming, sincere movie, with a not-so-subtle hint of Spike Jonze's criticims on our addiction to technology and inability to communicate with the people near us. And what's with the instagram-filter-esque colors, warm but bleak, appealing but isolating at the same time? Yeah, solid 8,5/10, worth every minutes I spent watching it.



Yogyakarta, 22 October 2018

ps. damn reviewing is hard
pps. I want to come home into The Breeders' Off You playing in the speaker.

Selasa, 25 September 2018

Melamun, 1

suatu hari, suatu hari, aku ingin membeli sepetak tanah di bagian terpadat kota kita lalu menjadikannya taman.

orang-orang akan memanggil taman itu dengan namamu.


-Yogyakarta, 25 September 2018

Selasa, 04 September 2018

Mbak Ma dan Sepeda

piknik pertama sama kouyou


aniesa norma dantie, dipanggil oleh aku dan mas dana dengan panggilan mbak ma. di keluargaku, cuma mbak ma orang yang bisa kuajak cerita lepas tentang apa saja. garis pertahanan hampir terakhir, kalau aku bilang. seringnya curhat berkedok makan di luar gitu. mbak ma suka makan. aku juga, cuma aku nggak punya uang, jadi ya nunggu diajak. aku pernah mikir, mungkin wawasan kulinerku akan terdengar menyedihkan kalau nggak sering diajak makan mbak ma (sebagai catatan, wawasan kulinerku sekarang masih menyedihkan).

ada satu malam yang sering kuputar ulang di kepala sampai sekarang. waktu itu kami makan di warung roti bakar di sekitaran pojok beteng. roti bakarnya tidak istimewa tapi indomie telor keju kornet (disingkat jadi intel junet) mereka, ya tuhan, enak banget. sempet nggak yakin tapi akhirnya nggak nyesel pesen dua porsi... aku harus menyarankan kalian buat coba intel junet. nggak harus beli, bikin sendiri di rumah juga bisa, kok.

ya, cukup dengan rekomendasi makanan. setelah satu piring roti bakar, tiga porsi intel junet dan beberapa topik curhat, pulanglah kami. sesi curhat belum tuntas melegakan kepala dan di jalan kami sama-sama diam. aku diam karena perut dan kepala sama-sama terlalu kenyang, mbak ma nggak tahu diam karena apa.

kami sedang menunggu lampu merah di plengkung gading. sudah malam, kendaraan masih ramai di jalanan. langit gelap dan lampu kota temaram. ada serombongan pesepeda menyeberang jalan. lalu mbak ma, dari jok belakang motor, bilang,

"sepeda itu, kalo berhenti gerak, nanti jatuh, ya?"

aku diam, rombongan pesepeda berlalu.




peluk hangat dari jogja buat mbak ma, mas yusuf dan kouyou.

-Yogyakarta, 4 September 2018

Sabtu, 18 Agustus 2018

selembar kertas yang dimenangkan seseorang dalam satu perjudian

ada yang menyayat hatinya sendiri setiap malam hingga sebelum subuh lalu menghabiskan sepanjang hari merawat luka itu. diciumnya setiap yang kering pun yang masih terbuka. sebagian darah menempel di lidah (ia mengecapnya dan tidak menemukan kata untuk menjelaskan rasa itu), seperti pengingat bahwa ia memang benar hidup. ia mengalami ini semua. dingin menusuk, tetes demi tetes merah itu tak kunjung berhenti, tubuhnya bergetar semakin kencang.

perihal yang membuatnya menggigil adalah perihal sama yang membuatmu dan mereka mengambil langkah menjauh. hal berikutnya yang ia tahu, ia tenggelam (atau ia sendiri memang melompat ke dalam air?) dengan beban terikat di kaki kemudian menendang dan meronta, panik mencari udara. jangan ulurkan tangan, kata mereka, kalau tak ingin ikut tenggelam.

bulan semakin jauh. seperti terdengar di atas air orang-orang ramai bertaruh uang dan puisi cinta. berapa lama lagi ia bisa menahan napas? pandangnya mengabur.



-yogyakarta, 18 agustus 2018