Jumat, 28 Desember 2018

catatan akhir 2018

tidak banyak yang ada di meja:
ketapel usang, kuas-kuas kaku
selembar kehidupan terbingkai, membeku
selebih itu adalah segala hampa diantaranya

pernah aku mencari diriku
diantara ingatan akan kata-katamu
atau di sisa hangat genggam tanganmu
tapi aku yang itu lumat juga,
di dalam jam pasir menjadi debu
terbentur, terbentur, terbentur, terbentur
terus begitu, entah sampai kapan

mungkin hidup tidak benar bertambah buruk
aku hanya melihatnya dengan lebih jujur
satu persatu, muslihat harus disingkap
sebuah permainan melepas dan menangkap

aku tahu ada lautan di dalam diriku
dan sungai kecil yang mengenal namamu
tapi aku tak ingin sekedar bertahan hidup,
berada di ambang bernapas dan tenggelam
aku menginginkan kehidupan
(atau tidak sama sekali)


-Yogyakarta, 28 Desember 2018

Senin, 22 Oktober 2018

Dear Catherine,


(taken from Her)

Recently rewatched Her (2014). It's actually doing the movie injustice, you know, to take this scene apart from its context. But this scene.. you can't help but feel its sincerity, the hard-earned resignation that Theodore finally came to (is resignation the correct word?). Well, he doesn't have any other choices left, does he?

Actually, yes, Theodore still had many other choices; he could be angry, he could be bitter, he could have done any other worse things. But he didn't, maybe knowing it won't bring any good to anyone including himself, maybe knowing how futile of an effort it would be, maybe.

(Okay, yes, that is me projecting myself into Theodore, sorry, can't help it.)

All in all, Her is a heart-wrenching yet warming, sincere movie, with a not-so-subtle hint of Spike Jonze's criticims on our addiction to technology and inability to communicate with the people near us. And what's with the instagram-filter-esque colors, warm but bleak, appealing but isolating at the same time? Yeah, solid 8,5/10, worth every minutes I spent watching it.



Yogyakarta, 22 October 2018

ps. damn reviewing is hard
pps. I want to come home into The Breeders' Off You playing in the speaker.

Selasa, 25 September 2018

Melamun, 1

suatu hari, suatu hari, aku ingin membeli sepetak tanah di bagian terpadat kota kita lalu menjadikannya taman.

orang-orang akan memanggil taman itu dengan namamu.


-Yogyakarta, 25 September 2018

Selasa, 04 September 2018

Mbak Ma dan Sepeda

piknik pertama sama kouyou


aniesa norma dantie, dipanggil oleh aku dan mas dana dengan panggilan mbak ma. di keluargaku, cuma mbak ma orang yang bisa kuajak cerita lepas tentang apa saja. garis pertahanan hampir terakhir, kalau aku bilang. seringnya curhat berkedok makan di luar gitu. mbak ma suka makan. aku juga, cuma aku nggak punya uang, jadi ya nunggu diajak. aku pernah mikir, mungkin wawasan kulinerku akan terdengar menyedihkan kalau nggak sering diajak makan mbak ma (sebagai catatan, wawasan kulinerku sekarang masih menyedihkan).

ada satu malam yang sering kuputar ulang di kepala sampai sekarang. waktu itu kami makan di warung roti bakar di sekitaran pojok beteng. roti bakarnya tidak istimewa tapi indomie telor keju kornet (disingkat jadi intel junet) mereka, ya tuhan, enak banget. sempet nggak yakin tapi akhirnya nggak nyesel pesen dua porsi... aku harus menyarankan kalian buat coba intel junet. nggak harus beli, bikin sendiri di rumah juga bisa, kok.

ya, cukup dengan rekomendasi makanan. setelah satu piring roti bakar, tiga porsi intel junet dan beberapa topik curhat, pulanglah kami. sesi curhat belum tuntas melegakan kepala dan di jalan kami sama-sama diam. aku diam karena perut dan kepala sama-sama terlalu kenyang, mbak ma nggak tahu diam karena apa.

kami sedang menunggu lampu merah di plengkung gading. sudah malam, kendaraan masih ramai di jalanan. langit gelap dan lampu kota temaram. ada serombongan pesepeda menyeberang jalan. lalu mbak ma, dari jok belakang motor, bilang,

"sepeda itu, kalo berhenti gerak, nanti jatuh, ya?"

aku diam, rombongan pesepeda berlalu.




peluk hangat dari jogja buat mbak ma, mas yusuf dan kouyou.

-Yogyakarta, 4 September 2018

Sabtu, 18 Agustus 2018

selembar kertas yang dimenangkan seseorang dalam satu perjudian

ada yang menyayat hatinya sendiri setiap malam hingga sebelum subuh lalu menghabiskan sepanjang hari merawat luka itu. diciumnya setiap yang kering pun yang masih terbuka. sebagian darah menempel di lidah (ia mengecapnya dan tidak menemukan kata untuk menjelaskan rasa itu), seperti pengingat bahwa ia memang benar hidup. ia mengalami ini semua. dingin menusuk, tetes demi tetes merah itu tak kunjung berhenti, tubuhnya bergetar semakin kencang.

perihal yang membuatnya menggigil adalah perihal sama yang membuatmu dan mereka mengambil langkah menjauh. hal berikutnya yang ia tahu, ia tenggelam (atau ia sendiri memang melompat ke dalam air?) dengan beban terikat di kaki kemudian menendang dan meronta, panik mencari udara. jangan ulurkan tangan, kata mereka, kalau tak ingin ikut tenggelam.

bulan semakin jauh. seperti terdengar di atas air orang-orang ramai bertaruh uang dan puisi cinta. berapa lama lagi ia bisa menahan napas? pandangnya mengabur.



-yogyakarta, 18 agustus 2018

Sabtu, 30 Juni 2018

Membaca Sapardi #3

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari
Sapardi Djoko Damono

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


(1971)

Jumat, 29 Juni 2018

Membaca Sapardi #2

Dalam Doaku
Sapardi Djoko Damono

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dalam mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu


(1989)

Selasa, 26 Juni 2018

Membaca Sapardi #1

Pada Suatu Pagi Hari
Sapardi Djoko Damono

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.


(1973)

Kamis, 17 Mei 2018

Untitled, 15/5/2018

lihat, burung baru bisa dibilang burung
setelah mereka terbang di langit
sunyi memberi bunyi makna dan sebaliknya
sedangkan pertemuan dan perpisahan:
pohon-pohon tua dan bayangan yang setia
(tidakkah kau melihatnya sekarang?)

sementara aku,
yang kutahu tentang merasa utuh
adalah saat tanganmu menyambut genggamku
erat dan tulus, tanpa perlu kata-kata,
(pernahkah aku merasa sedemikian damai?)
atau saat dalam dekap, seakan saling membisikkan
rasa aman dengan degup jantung masing-masing,
atau beberapa detik itu, ketika mata kita bertemu
sebelum kemudian terpejam dan bibir kita
menulis puisi di tubuh satu sama lain.

kuberanikan diri bertanya, walau
tak yakin akan tahu jawabnya:
apakah telah hilang pulangku?

(dan masih bisa kulihat warna bola matamu
pada siang itu setiap aku menutup mata)

kiranya benar kata penulis itu,
hidup teramat pendek dan ingatan
teramat panjang. dan seandainya
tak bisa kurasakan lagi selama hidup,
bolehkah aku sebisanya mengingat
pulang di ruas jemari tangan mungilmu,
puisi purba yang kukecup di bibirmu, rumah itu
yang akhirnya kutemukan diantara dua lenganmu?

(dan kuberanikan diri bertanya
walau tak yakin ingin tahu jawabnya:
bolehkah aku terus berharap?)




-Yogyakarta, 15 Mei 2018