Selasa, 24 Maret 2015

di Ayara Pukul Empat

Seorang baru saja selesai
menyunting harapannya menjadi
lengan yang membetulkan selimutmu,
atau doa yang fasih membisikkan diri
ke telingamu ketika kau lelap tertidur


Seorang baru saja ingat
puisi bukanlah coklat hangatmu
tapi bersikeras menuliskan satu
karena tak dikenalnya cara lain
menyiasati rindu saat malam dingin


Seorang baru saja tersenyum
lalu bergegas mengenakan selimut
segera ia 'kan mengayuh sepedanya
di Ayara pukul empat, jangan telat
tunggu aku dengan coklat hangatmu




-Yogyakarta, 24 Maret 2015

Rabu, 18 Maret 2015

Sebuah Cerita yang Pendek dan Gelap

Hari sudah malam sejak lama. Entah pukul berapa sekarang. Mata bulan bersinar sayu di balik arakan awan yang ragu-ragu, menembus jendela sebuah kamar yang gelap gulita. Kamar yang tidak terlalu kecil dengan sedikit perabotan, tapi terasa menghimpit karena barang-barang yang berantakan, di sana-sini berserakan. Redup cahaya bulan jatuh di muka cermin yang menunjukkan bayangan seseorang di atas kasurnya. Ia telentang di kasurnya, diam dan seutuhnya terjaga, seakan sedang ada badai di kepalanya dan ia tengah berkonsentrasi penuh membaca arah ombak laut yang sedang diarunginya. Teramat penuh hingga ia tak sempat memikirkan apakah ia merasa terganggu atau tidak dengan kegelapan kamarnya. Toh ia hidup seorang diri. Jika ada yang membutuhkan bantuan cahaya, itu hanya dirinya sendiri. Dan memang tak ada yang perlu ia lakukan yang membutuhkan pencahayaan saat itu.


Perihal badai apa yang berulah di kepalanya, tak ada yang bisa tahu--jika bukan tak ada yang benar-benar perlu tahu. Jika kemudian ia harus memberitahu seseorang, ia pun tidak tahu dengan cara apa ia bisa dengan utuh menggambarkannya. Tidak pula kata-kata. Kata-kata hanya akan menjadi miniatur sebuah kota mati.


Entah sudah berapa lama ia seperti itu dan ia mulai merasa lelah. Ia kemudian bangkit untuk meraih botol minum di meja di samping cermin. Seisi botol ia habiskan sambil memandangi cermin. Ia masih memandangi cermin itu lama setelah ia meletakkan botol kosong itu kembali ke meja, mengamati bayangan dirinya sendiri dari ujung rambut sampai perut.


Ada ketakutan yang meranggas dari bayangan yang ia lihat di cermin. Bukan karena apapun, melainkan karena ia tak benar-benar mampu melihat dirinya sendiri di sana. Banyak hal kehilangan arti di matanya--termasuk, mungkin, dirinya sendiri. Yang dilihatnya hanya bayangan. Tak ada dirinya. Hanya bayangan dan tak lebih.


Ia benci mengetahui bahwa pikirannya sendiri yang melahirkan ketakutan ini. Padahal, ia kira, ia merasa tak pernah benar-benar berkawan selain dengan kepalanya. Sekarang malah pikirannya sendiri yang menciumkan bibir pistol ke keningnya dalam diam, sudah terisi dan menunggu, seakan memberikan ia kesempatan untuk mengatakan kata-kata (dan bukan doa) terakhirnya. Seorang yang ia kagumi pernah berkata, "teman bukanlah apapun melainkan musuh yang kau ketahui." Ia baru memahami maksudnya sekarang. Ia tersenyum, merasa dikhianati.


Ia tumbuh dengan rasa rindu yang kosong. Rindu yang tak tahu kepada siapa ataupun ke mana tertuju. Ia terbiasa dengan hal itu, tumbuh dengan perasaan itu, hingga mata pisau rindu kehilangan ketajamannya bahkan hanya untuk menggores dirinya. Maka bukan, bukan rindu yang menjelma selongsong peluru di laras pistol itu; mungkin darah rindu, tapi bukan, bahkan tak mungkin, rindu itu sendiri.


Matanya tiba-tiba membelalak, nyalang menantang. Ia menolak membusuk karena pikirannya sendiri. Ia murka. Ada kemarahan yang ia simpan diam-diam di balik rutinitasnya sejak lama dan tak ada rasa ragu untuk menumpahkan setiap tetesnya sekarang.
Ia menggeram, lalu menghantam cermin di hadapannya hingga berkepingan. Setiap tetes murka menjadi adrenalin yang menggelegak di pembuluh darahnya, menggerakkan otot-otot lengannya dengan kekuatan yang mengerikan. Menghantamnya dengan kalap tanpa sempat merasakan deras darah yang menetes dari kepal tangannya. Menghantamnya lagi dan lagi hingga yang tersisa di hadapannya hanya merah darah pada kepingan kaca yang pecah.


Tak ada lagi cermin keparat itu, tak ada lagi bayangan dirinya, tak ada. Hilang. Hanya ada ia dan isi kepalanya yang bungkam, kehilangan pistolnya. Ia terengah, mencoba menangkap napas sambil mencari tahu: sekarang apa?


Tiba-tiba, ia merasakan ketakutan yang lebih besar. Ketakutan yang lebih menghimpit ketimbang kesendirian yang tengah ia coba jinakkan, yang ia pikir telah ia remukkan bersama dengan cermin itu, yang membawanya ke titik ini sedari awal. Ia menjatuhkan diri di atas serakan kaca dan menangis sangat pelan. Seakan baru saja ia, sekali lagi, ditinggalkan.







-Yogyakarta, 18 Maret 2015