Senin, 22 Desember 2014

Bersabar Itu Baik

Bersabar itu baik
seperti bersabar menabung rindu
untuk ditukar dengan senar gitar baru
agar bisa menyanyikan lagi
lagu-lagu kita pada suatu
sore yang bersabar

Bersabar bukan hanya
perihal menunggu belaka,
terkadang bersabar adalah menjaga
diri sendiri dan orang lain dari
keputusan yang tak berimbang

Bersabar adalah teman baik
kejutan dan rahasia-rahasia kecil
yang mekar-memekarkan
purnama pada langit malam
di dalam semesta jendela
milik sebuah rumah cerita
dari sepasang pemalu
yang saling belajar bersabar



-Yogyakarta, 22 Desember 2014

Selasa, 16 Desember 2014

Rumpang: Sebuah Kolase Pikiran Ketika Sedang Dalam Perjalanan Pulang

Aku selalu ingin membawa pulang perasaan yang sederhana dan setia, yang menyiratkan sebagian rasa akan rumah, setiap kulihat cahaya lampu jalan.

Selalu kupandangi lampu jalan di waktu langit beranjak gelap setiap usai melunasi rutinitas. Seakan mengingatkan diri sendiri ada rumah yang bisa dan sedang aku tuju. Perasaan ini, yang hanya menyiratkan sebagian rumah, memberikan rasa akan sebuah rumah yang lebih utuh ketimbang rumah itu sendiri.

Jalanan dipenuhi orang-orang berwajah lelah yang di sepanjang bentangan seakan malu untuk terengah menempuh jarak yang tak kunjung sampai, nampaknya tengah mencari rumah yang sebenarnya entah ada di mana, entah sebenarnya ada atau tidak. Mungkin pada suatu nanti akan kau temukan aku di antara mereka, mungkin juga tidak; jika akhirnya aku berhasil membawa pulang cahaya lampu jalan itu.

Di renda redup cahaya oranye itu ada lengan yang tengah memeluk sesuatu yang seakan tidak ada. Tapi hangatnya nyata. Tak tergapai perasaan itu dengan bahasa, dan mungkin memang seperti itu cara ilusi yang maha mahir bekerja.

Ilusi adalah puisi yang ditulis dengan bahasa ruang-waktu. Dipermainkannya kita dengan metaforanya, dibuainya kita dengan perasaan dan ke-seakan-an. Kadang kau dibuat melaut dan terlarut, kadang kau dibuat kalut dan takut. Di satu waktu ia tanpa ragu menyembunyikan yang ada. Di waktu lain ia akan menampakkan yang tiada.

Barangkali yang aku rasakan dari lampu jalan ini hanyalah ilusi saja. Atau barangkali pula rumah hanya sekedar metafora kosong pemanis sajak-sajak yang sedang kebingungan dengan apa yang sebenarnya mereka cari. Tak tertutup kemungkinan jika segala ini tak lebih dari ilusi. Termasuk aku. Peluk cahaya lampu jalan itu, tentu saja, tidak terkecuali.

Yang tersisa dari cahaya lampu jalan yang akhirnya kubawa pulang itu hanyalah kekosongan itu sendiri. Kubawa pulang kekosongan ini ke suatu tempat yang disepakati orang-orang untuk dinamakan rumah. Kujadikan selimut saat tidur nanti agar paginya aku menjadi nyata, tidak ada.

Selamat tidur, kataku, entah kepada siapa.



-Yogyakarta, 16 Desember 2014. Musim penghujan sudah kembali.