Rabu, 23 Juli 2014

Bapak dan Ibu: Fragmen yang Diceritakan Kembali


di dalam aku yang malam menganga
bebaitan rahasia-rahasiamu, yang
sebelumnya semayam di senyummu,
menemukan pulang. tertangkap-jatuh
dari mataku

di balik selimut sunyi kami bersembunyi
dari segala yang menanarkan dan yang
minta didengarkan. di balik selimut sunyi
kami berdekapan dan kata-kata telanjang
menanggalkan bunyi

di antara jarak, rindu menjalar rimbun
merindang menudung; kita dilindung
dari himpit relung-relung kelengangan
di sana kita semai-semaikan bebutiran
pengharapan. semoga kita mengerti
bagaimana melangkah di antaranya
sambil sekali-sekali saling topang
memetik mimpi-mimpi yang ranum
di ujung reranting

di depanku kau berbaju serba hitam
bukan! ini tahap bukan 'tuk diratap!
jagalah anak-anak di setiap malam
dan kecupkan cerita sebelum lelap
sampai nanti kalau tiba pulangmu
kita kembali menjadi


-Yogyakarta, 23 Juli 2014.

Selasa, 15 Juli 2014

Hal-Hal Yang Ikut Terbit Di Pagi Hari

Pagi tak bergegas menyusun diri. Ia mengerti betul perihal menikmati dan mencipta seni. Aku, dari kamarku, menghirup napasnya yang lapang.

Koran pagi masih berjejalkan berita buruk yang sama, masih berjubahkan berita baik yang samar. Membaca koran pagi di pagi hari, berdasarkan pendapatku sebelumnya, adalah cara terburuk menikmati pagi hari. Dengan menghapus kata koran di kalimat barusan, kamu berkemungkinan besar mendapat hasil sebaliknya.

Dari jauh, senandung mendung membisukan dedaunan pohon yang diam menghayati. Diundangnya aku oleh mereka untuk ikut mengamati.

Kalau boleh aku mengandaikan diri jadi dedaunan, senandung mendung terdengar merdu hanya ketika mendung saja. Sebenarnya, ketika menghujan pun masih merdu juga, tapi senandungnya akan sulit terdengar. Maksudku, jika tubuhmu hanya sebesar daun dan tak ada atap untuk berteduh, mungkin baru kau akan mengerti kenapa bertemu dengan hujan adalah hal yang merepotkan. Hujan mungkin adalah keributan yang basah bagi dedaunan. Walau demikian, mereka sadar mereka saling membutuhkan (mengetahui dan menyadari, dalam hal ini, adalah dua hal yang tidak bisa secara membabi buta disamakan). Saling menerima bukanlah keputusan yang sulit untuk mereka.

Mendung, melalui jendela kamarku, membaca rasa irikuyang aku sendiri sulit menemuk.. ah, apakah terpampang dengan jelas di wajahku?pada mereka: pertemuannya dengan dedaunan pohon tertulis dengan pasti diantara siklus-siklus yang berada dalam jangkauan. Bertemu bukanlah suatu janji yang muluk-muluk. Dan rindu, bagi mereka, hanyalah salah satu fase dari gulir siklus semesta yang adil. Adil, dalam artian, kamu mendapatkan sebanyak apa yang kamu bayar. Lagipula, bukankah demikian cara semesta bekerja? Adil dari sudut pandang yang lebih agung?

Membicarakan semesta adalah membicarakan rahasia dan rencana yang cair, cenderung reaktif. Definisi yang spesifik tentang semesta, menurut saya, adalah hal membabi buta lain yang bisa dilakukan manusia. Rahasia semacam semesta, menurut saya lagi, adalah rahasia yang sudah cantik tanpa perlu lagi diberi bingkai hiasan kata-kata.

Kemudian, di masa depan yang tak teramat jauh, ketika hidup terasa tidak adil, cobalah untuk mengingat bahwa tak ada satu helai pun daun yang tidak termasuk dalam rencana semesta.

Ah, kapan koran pagi kita bolehkan menulis perihal semacam ini?


-Yogyakarta, 15 Juni 2014.

Minggu, 06 Juli 2014

Kita dan Jembatan Bernama Komunikasi


Kami masih sama-sama terdiam. Saling menduga diam siapa lebih dalam.

Bukannya kami kekurangan sesuatu untuk dikatakan; kami punya terlalu banyak. Barangkali kami sama-sama beranggapan kata tidak berarti banyak sekarang. Toh, diam yang seperti ini sudah cukup menjelaskan perihal yang jika diungkapkan dengan kata-kata akan menghabiskan waktu lama. Juga semakin memangkas habis segala yang selama ini kami rawat. Aku, sebisa mungkin, menghindari hal itu.


Selasa, 01 Juli 2014

Who Are You?

When I say, "I am what makes myself," I am not entirely correct. I am, in facts that I find out hard to believe yet are true, a product of my surroundings too. A member of a so-called civilized society of developing country in twentieth century. There is where I started finding myself confused. I learned to enjoying times when I am alone in the middle of strangers these days, which I believe are a good thing to learn. I bend my sleep hour. A little too much, maybe. This sleep-hour bending makes me rarely had a dream. But when I finally had one, I cannot remember even a part of it. And there are much other unanswered questions I'm (still) trying to discover. It all suspended, blended, then takes me ended up into a situation where I can't even resemble myself in front of the mirror. I hardly recognize my blurred-self. I do not understand what am I really are. I asked myself things that I thought was happened to be me. When you read this, you might be confused about what am I trying to say. And that would be normal, for a writings can't express the writer's thoughts if the writer itself are confused about what things are he/she want to talk about.

But I am fine, if you ask me. I am super fine, and on my way to extra fine.



-Yogyakarta, 1 July 2014.