Selasa, 08 Desember 2015

Sajak Desember

gugur lagi setangkai daun
meriakkan bayangku di permukaan
sungai yang terus mengalir dan
jika bukan karena sentuhmu
lembut di wajahku,
mungkin aku akan pulang dengan memar
bayangan diri yang samar

-Yogyakarta, 8 Desember 2015

Jumat, 13 November 2015

siang itu

hujan tak jadi turun siang itu
tapi kami kuyup dan diam
kuyup diantara diam

tak semua hujan langit yang turunkan
tak semua langit memberi ampunan
dari yang maha lupa, kau harus berlari
dunia maha lupa, teruslah berlari

tapi aku berjalan tak berlari
karena sebatas itu yang ku tahu
tentang luka dan menerima;
lupa adalah membunuh di kepala

lawan dan jatuh
jatuh, jangan
lepaskanlah
jangan

untungnya, hujan tak jadi turun siang itu
kita akan baik-baik saja
tidak juga.

-Yogyakarta, 12 November 2015. di Ayara.

Sabtu, 07 November 2015

Sajak November

Kau adalah cuaca di penghabisan tahun
membuat orang-orang bersembunyi
meringkuk di balik selimut, bermimpi
tentang masa kecil dan segala kekalahan

-7 November 2015

Selasa, 24 Maret 2015

di Ayara Pukul Empat

Seorang baru saja selesai
menyunting harapannya menjadi
lengan yang membetulkan selimutmu,
atau doa yang fasih membisikkan diri
ke telingamu ketika kau lelap tertidur


Seorang baru saja ingat
puisi bukanlah coklat hangatmu
tapi bersikeras menuliskan satu
karena tak dikenalnya cara lain
menyiasati rindu saat malam dingin


Seorang baru saja tersenyum
lalu bergegas mengenakan selimut
segera ia 'kan mengayuh sepedanya
di Ayara pukul empat, jangan telat
tunggu aku dengan coklat hangatmu




-Yogyakarta, 24 Maret 2015

Rabu, 18 Maret 2015

Sebuah Cerita yang Pendek dan Gelap

Hari sudah malam sejak lama. Entah pukul berapa sekarang. Mata bulan bersinar sayu di balik arakan awan yang ragu-ragu, menembus jendela sebuah kamar yang gelap gulita. Kamar yang tidak terlalu kecil dengan sedikit perabotan, tapi terasa menghimpit karena barang-barang yang berantakan, di sana-sini berserakan. Redup cahaya bulan jatuh di muka cermin yang menunjukkan bayangan seseorang di atas kasurnya. Ia telentang di kasurnya, diam dan seutuhnya terjaga, seakan sedang ada badai di kepalanya dan ia tengah berkonsentrasi penuh membaca arah ombak laut yang sedang diarunginya. Teramat penuh hingga ia tak sempat memikirkan apakah ia merasa terganggu atau tidak dengan kegelapan kamarnya. Toh ia hidup seorang diri. Jika ada yang membutuhkan bantuan cahaya, itu hanya dirinya sendiri. Dan memang tak ada yang perlu ia lakukan yang membutuhkan pencahayaan saat itu.


Perihal badai apa yang berulah di kepalanya, tak ada yang bisa tahu--jika bukan tak ada yang benar-benar perlu tahu. Jika kemudian ia harus memberitahu seseorang, ia pun tidak tahu dengan cara apa ia bisa dengan utuh menggambarkannya. Tidak pula kata-kata. Kata-kata hanya akan menjadi miniatur sebuah kota mati.


Entah sudah berapa lama ia seperti itu dan ia mulai merasa lelah. Ia kemudian bangkit untuk meraih botol minum di meja di samping cermin. Seisi botol ia habiskan sambil memandangi cermin. Ia masih memandangi cermin itu lama setelah ia meletakkan botol kosong itu kembali ke meja, mengamati bayangan dirinya sendiri dari ujung rambut sampai perut.


Ada ketakutan yang meranggas dari bayangan yang ia lihat di cermin. Bukan karena apapun, melainkan karena ia tak benar-benar mampu melihat dirinya sendiri di sana. Banyak hal kehilangan arti di matanya--termasuk, mungkin, dirinya sendiri. Yang dilihatnya hanya bayangan. Tak ada dirinya. Hanya bayangan dan tak lebih.


Ia benci mengetahui bahwa pikirannya sendiri yang melahirkan ketakutan ini. Padahal, ia kira, ia merasa tak pernah benar-benar berkawan selain dengan kepalanya. Sekarang malah pikirannya sendiri yang menciumkan bibir pistol ke keningnya dalam diam, sudah terisi dan menunggu, seakan memberikan ia kesempatan untuk mengatakan kata-kata (dan bukan doa) terakhirnya. Seorang yang ia kagumi pernah berkata, "teman bukanlah apapun melainkan musuh yang kau ketahui." Ia baru memahami maksudnya sekarang. Ia tersenyum, merasa dikhianati.


Ia tumbuh dengan rasa rindu yang kosong. Rindu yang tak tahu kepada siapa ataupun ke mana tertuju. Ia terbiasa dengan hal itu, tumbuh dengan perasaan itu, hingga mata pisau rindu kehilangan ketajamannya bahkan hanya untuk menggores dirinya. Maka bukan, bukan rindu yang menjelma selongsong peluru di laras pistol itu; mungkin darah rindu, tapi bukan, bahkan tak mungkin, rindu itu sendiri.


Matanya tiba-tiba membelalak, nyalang menantang. Ia menolak membusuk karena pikirannya sendiri. Ia murka. Ada kemarahan yang ia simpan diam-diam di balik rutinitasnya sejak lama dan tak ada rasa ragu untuk menumpahkan setiap tetesnya sekarang.
Ia menggeram, lalu menghantam cermin di hadapannya hingga berkepingan. Setiap tetes murka menjadi adrenalin yang menggelegak di pembuluh darahnya, menggerakkan otot-otot lengannya dengan kekuatan yang mengerikan. Menghantamnya dengan kalap tanpa sempat merasakan deras darah yang menetes dari kepal tangannya. Menghantamnya lagi dan lagi hingga yang tersisa di hadapannya hanya merah darah pada kepingan kaca yang pecah.


Tak ada lagi cermin keparat itu, tak ada lagi bayangan dirinya, tak ada. Hilang. Hanya ada ia dan isi kepalanya yang bungkam, kehilangan pistolnya. Ia terengah, mencoba menangkap napas sambil mencari tahu: sekarang apa?


Tiba-tiba, ia merasakan ketakutan yang lebih besar. Ketakutan yang lebih menghimpit ketimbang kesendirian yang tengah ia coba jinakkan, yang ia pikir telah ia remukkan bersama dengan cermin itu, yang membawanya ke titik ini sedari awal. Ia menjatuhkan diri di atas serakan kaca dan menangis sangat pelan. Seakan baru saja ia, sekali lagi, ditinggalkan.







-Yogyakarta, 18 Maret 2015

Minggu, 08 Februari 2015

Kembara

Dengan kaki, kau hanya akan berjalan
Belum berarti akan sampai tujuan
Belum pula berarti akan menemukan
Kau hanya akan mengakui kekalahan
Ketika jarak tak hentinya bertumbuhan
Menjurang di tengah perjalanan
Dan tak ada yang bisa kau lakukan


Dengan akal, kau hanya akan mencari
Tak benar-benar berjalan, pun berlari
Nurani hanyalah sesuatu untuk dikebiri
Maka jangan terkejut jika kelak diingkari
Oleh pertanyaan yang membelah diri,
Menjadi muslihat di bawah matahari


Kembara seharusnya dimulai dengan hati
Baru akal, kemudian kaki
(Tidakkah hampa adalah absennya inti?)
Karena setiap kita punya jalan tersendiri
Bukan berarti kita akan atau harus sendiri
Tapi ada yang harus dibayar dengan sepi
Ada yang harus ditemukan dalam sunyi:
Pulang adalah sebentuk ilusi,
Temukanlah rumah di perjalanan yang abadi.



-Yogyakarta, 3 Februari 2015

Jumat, 23 Januari 2015

Perihal Impian

Impian saya adalah daftar-daftar yang terus bertumbuh dan berkembang. Kadang hanya bertumbuh, kadang hanya berkembang, tak jarang mereka berproses seiringan. Selaras dengan perkembangan saya sebagai seorang pribadi. Nadi mereka adalah nadi saya, gersang mereka adalah kemarau saya.

Saya rawat mereka sejak kecil. Pada waktu itu, dengan kepolosan seorang anak-anak, tentu saja. Benih impian ini suka berandai tentang langit, tentang robot yang menyelamatkan dunia dengan senapan laras panjangnya, tentang rumah di mana Ibu berada, dan tentang hal-hal menyenangkan lainnya yang dimungkinkan oleh kepolosan anak-anak.

Semakin bertamabah umur saya, semakin tampaklah wujudnya. Awalnya, ia menemukan tanah tempatnya tumbuh--pada hal-hal kegemaran saya. Lalu ia mulai menunjukkan tanda kehidupannya mulai dari bentuk yang paling sederhana, setunas kecil yang menemukan jalannya menuju permukaan. Walaupun kecil, ia berdiri menantang, seperti mencari.

Seperti yang saya bilang, kami berproses dengan satuan waktu yang sama. Banyak perubahan yang terjadi. Setiap apa yang saya alami, setiap luka dan tawa, setiap saya seakan melayang dalam euforia dan setiap saya berusaha berdiri kembali setelah jatuh, menentukan perubahan yang akan terjadi. Berproses adalah menerima perubahan. Saya kemudian menyadari kebahagiaan dan kesedihan adalah dualitas agung yang adil, dan, seperti perubahan, harus saya terima. Suka atau tidak.

Semakin kemari, saya menyadari satu hal yang juga ikut berubah: cara pandang saya terhadap impian saya. Saya kira, saya yang membuatnya hidup. Ternyata sebaliknya.

Dulu, saya yang merawatnya. Sekarang, impian saya yang menghidupi saya. Mungkin ini terlihat seperti balas budi, tapi melihatnya seperti itu tidaklah tepat. Ini bukan seperti hubungan balas budi. Saya berpikir mungkin hal ini lebih tepat dipandang sebagai sebab-akibat. Karena apa, saya belum mampu menjelaskan. Saya hanya percaya hal ini harus dipahami demikian.

Ketika saya bilang sekarang impian adalah apa yang menghidupi saya, saya bersungguh-sungguh. Kalimat itu bisa dipahami secara implisit dan eksplisit. Walau demikian, ia tetap memiliki kelemahan. Ia bisa merapuh ketika diterpa badai--dalam bentuk apapun--yang menghantamnya keras. Ia bisa mengering karena saya tak benar merawatnya. Akibat buruknya, padahal, saya juga yang merasakan.

Maka merawat impian saya adalah hal yang logis. Ia saya rawat, saya dihidupinya. Tak akan saya biarkan apapun mengusiknya. Apapun. Saya ingin hidup melihat impian saya hidup, tumbuh dan berkembang. Merindang. Untuk itu, saya bersedia membayar apa saja. Apapun.


-Yogyakarta, 23 Januari 2015