Senin, 27 Mei 2013

Mendukai Luka, Melukai Duka


Kepala-kepala itu mendangak, terlalu malas meraih ujung kata ‘bagaimana dengan aku’ tapi lantang seakan lancar berkelakar ‘ini duka tak peduli walau luka kau pantas dengan neraka’. Kepala-kepala ini kelilipan, hingga tak melihat mata-mata yang lebih basah dari laut. Mata-mata yang di dalamnya waktu mendadak acak. Mata-mata yang sebelumnya lebih hangat dari pertemuan-pertemuan yang kau harap lebih lama, sekarang lebih dingin daripada pualam-pualam pemakaman. Mata-mata yang harus melihat sepasang mata dimana semesta mereka berpusat, menutup lebih cepat, karena kepala-kepala yang haus menghujat.
*
Sungguh, ada batas-batas yang belum kita lewati, belum kita dekati,belum kita sadari. Tapi, terkadang, nafas terlalu tipis, lebih dulu habis sebelum kita mampu memulai. Darah terlalu beku, terlanjur kaku sebelum diri mau menyadari. Ada pula batas-batas yang baru mampu kita iyakan dari batas akhir nafas darah orang lain –tentunya bagi mereka yang memandang tak lebih dari merasa.

Janganlah kepala timpang karena mampu menyebar obituari, buatlah hati merasakan lebih banyak dari yang kita baca.

-Yogyakarta, 26 Mei 2013

Berlangganan Kenangan


Setiap pagi, di depan pintu, selalu ada koran yang selalu mengaku tak lagi terbit esok hari

Halaman depan berkata hujan akan turun walau keberaniannya hanya sebesar ibu jari

Pada halaman 11 selalu muncul obituari, iklan es krim, dan berita kehilangan

halaman 24 ini menyakitkan, tanda tanya ada pada semua kalimat sebagai akhiran

Kata-kata di dalamnya bertanya-tanya tentang sesuatu yang tanpa titik temu

Lalu mata kita tertulis dalam satu paragraf rumpang yang tak saling bertemu

Prakiraan cuaca benar, hari itu awan tak berani turun satu-satu

Sedang saya tak lagi berani membaca huruf-huruf rindu satu-satu.

-Yogyakarta, 24 Mei 2013.

Sabtu, 25 Mei 2013

Hari Ini Saya Dinyatakan Lulus SMA, Lalu?

Di suatu tempat, seorang tua sedang menunggu loyang dengan pizza yang bermekaran. Tak jauh dari sana, seorang muda sedang menunggu bunga dagangannya layu.

Di bawah terpal berwarna oranye suatu angkringan, seorang perantau setengah baya dari timur dirundung bingung karena sudah terlalu larut bagi bus untuk membawa ia kepada orang tua angkatnya. Ia bahkan lebih bingung lagi saat membuka isi dompetnya. Motor-motor muda produk Jepang di jalanan ini terlalu arogan untuk peduli dengan ceritanya.

Di samping saya, teman saya Putra Anggita sedang melahap angka atau apa saja yang ada di dalam buku dari tempat bimbingan belajarnya --akar dari ilmu juga pangkat dari fungsi pusingnya. Saya asyik saja mengetik tulisan ini atau melahap apa saja di internet --menghabiskan dan membuang waktu.

Kapan belajar, Alan?


--Yogyakarta, 25 Mei 2013.

Minggu, 19 Mei 2013

Catatan Yang Kau Temukan Pagi Ini

Sudahkah kau meminum kopi hangat di daun jendela kamarmu pagi ini?
Saya yang menyeduhnya. Katamu itu kopi favoritmu, kopi buatan saya. Kau bilang kopi yang saya seduh misterius dan sukar ditebak. Saya tidak mengerti maksudmu. Tapi saya yakin kali ini rasanya pasti; manis. Saya beri kopi itu gula lebih banyak dari biasanya agar rasanya semanis kenangan.

Sudahkah kau memperbaiki sobekan di sweater hadiah dari ibumu?
Kau sedih karena sweater itu sungguh sehangat pelukan ibumu. Saya juga sedih karena sweater hadiah dari saya malah kau sembunyikan di dalam lemarimu, entah kenapa. Saya mengingatkanmu karena kemarin, menurut ramalan cuaca, cuaca dingin akan datang dan sedikit membuat repot. Jangan jatuh sakit. Segera perbaiki sweatermu, atau cari jaket-jaket hangat lain. Karena sweater dari saya mungkin sudah bolong-bolong dimakan waktu.

Sudahkah kau mencuci pakaianmu?
Iya, saya belum jadi mencucikannya seperti yang kau minta pada saya. Saya harus menulis catatan ini, lalu saya harus membeli koper karena kita hanya punya satu koper. Untuk apa saya beli koper lain, nanti kau akan tahu. Saya juga harus menduplikat kunci motor saya yang kau hilangkan kemarin lusanya. Belum lagi luka-luka lama saya yang harus saya rawat sendiri. Hahaha, iya, saya pintar mencari-cari alasan. Saya akan mengurangi kebiasaan ini, karena saya tidak ingin memunculkan alasan-alasan untuk mengingatmu.

Sudahkah kau mengunjungi karnival di kota?
Malam nanti karnival masih ada. Jika belum kesana, tolong beritahu saya kapan kau akan kesana. Tidak , saya tidak bermaksud mengajakmu kesana bersama saya, saya bermaksud memilih hari lain dari hari kau akan kesana. Tempat itu seharusnya didatangi untuk berbahagia, bukan untuk bernostalgia.

Sudahkah kau mengambil dompetmu yang tertinggal di rumah mantan pacarmu?
Kau adalah orang pintar yang saya kenal yang paling sering meninggalkan barang bawaanmu di tempat orang lain. Kau adalah orang yang mengingat setiap kata dari kalimat pembuka Karl Marx di Communist Manifesto --kau selalu bersikeras Karl Marx tenar karena kalimat pembuka itu--, tapi kau selalu lupa membawa pulang barang-barang bawaanmu.
Saya takut selama ini Karl Marx bersembunyi didalam kalimat pembuka itu, lalu diam-diam malah mendirikan negara kapitalis yang memonopoli kapasitas ingatanmu, lalu merampas rumah saya di ingatanmu. Ah, maksud saya, kau harus adil terhadap ingatanmu. Kau juga harus mengingat hal-hal yang perlu kau ingat, karena saya tidak bisa terus menuliskanmu catatan-catatan pengingat seperti ini. Saya takut jika kau menjadi seperti saya --pengingat dan pelupa sekaligus, yang kecanduan catatan. Saya bahkan hampir lupa jika saya menulis catatan ini agar saya tidak lupa mengambil kembali hati saya dari dalam hatimu.

Sudahkah kau tahu saya seorang egois?
Ini bukan pengingat, tapi saya merasa perlu menyertakan ini dalam catatan. Saya mungkin terlihat sungguh egois, karena saya memang egois. Saya seperti seseorang yang hidup di daerah rawan bencana tapi bersikeras tetap tinggal di rumah yang rentan runtuh; saya memaksa tinggal di sisa-sisa selamat tinggal yang kita ucapkan. Tapi untuk kali ini luka dan akal sehat saya bekerja sama, berbicara lebih keras dan jelas. Saya sadar rumah ini bukan tempat saya seharusnya berada. Rumah ini tidak lebih dari sekedar kenangan. Saya akan membangun rumah saya sendiri. Saya akan menggunakan beberapa bagian dari rumah kita agar rumah saya lebih nyaman dan kokoh kelak, bagi saya dan kamu atau bagi saya dan siapa saja. Waktu akan menjawab.


Sudahkah kau sadar saat kau membaca catatan ini, saya (sudah / sedang dalam perjalanan) pergi?
Untuk itu saya perlu koper dan kunci motor saya. Waktu sudah menjawab satu pertanyaanmu, tunggu ia menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya.


-Yogyakarta, 17 Mei 2013.

Mengutuk Mata

Tak jua habis seluruh
tak habis pula tak utuh
Datang dengan mengendap
atau lari berderap
Dia; kata-kata senyap

Ini sajak bukan rindu; hanya tiga petak
residu malam-malam mendung
Karena dua pasang kelopak
di utara dan selatan telaga berkabung
Disela sesak
hingga tak kunjung saling berkunjung

Tak jua habis seluruh
tak habis pula tak utuh
Malam tinggal sejengkal ukur
sedang kantuk masih sejauh syukur

Kapan aku bisa tidur?

-Yogyakarta, 18 Mei 2013

Senin, 13 Mei 2013

A Tasteless Breakfast

There will be time where we stumble
And fall, then another stumble.
Yet you might still have another fall and stumble
Until the very end of breaths.

There will be time where we ask for hands
Who help us stand up and give hugs.
But then we got nothing but embrace from cold air
Or a wrap of white fabric, then sealed inside a digged dirt.

But there is more than it looks,

There will be time where we laugh
So loud it is, way much louder than town traffics
And you (un)awarely wish the time stood still.
You even will tell your memory to live there.

There will be time where we accept what we get instead of what we want
After a season or more of wait, after a phase inside a life cycle
There you realize what is called the beauty of patience.

But we can't keep time for ourself
We can't stop time.
Like life itself, it's God's right and we absolutely cannot lay our hands on it.
But God gaves us mind to remind ourself the sweet of sweat that came out from patiences.

When you get hurts, world won't stop to fix your wound.
But believe this,
Hurts is what make us reach the essence of happiness.

Don't waste your time to reveal the meaning of life
'Cause life is nothing but a bowl, and how we live is how we would fill it.
And a bowl full of elegy is the most cruel meal for breakfast.

-Yogyakarta, Mei 2013.

------------

Sampai bertemu lagi, kawan. Saya akan ceritakan sarapan yang lebih tidak hambar dari pagi ini ketika kita bertemu. :)

Kamis, 09 Mei 2013

Re-(forget/member)-ing

Di suatu tempat di dalam kepala saya, Ingat dan Lupa adalah sepasang kekasih yang sedang ribut berebut sudut di pikiran saya. Saya akan pelan-pelan belajar menengahi mereka dengan membagi porsi yang tepat bagi masing-masingnya. Saya akan mengingatkan diri saya; kesepian adalah kebohongan yang hati saya pelihara, lalu perlahan melupakan makna rindu sebagai kamu. Saya akan melupakan luka, lalu mengingat-ingat dimana saya mendapat luka itu. Saya akan ingat dan lupa sekaligus. Kalimat barusan terdengar lucu; seperti senyummu. Ah, lihat bagaimana buruknya saya menjaga ingatan? Saya perlu dan akan belajar.

-Yogyakarta, Mei 2013.