Sabtu, 13 April 2013

Pertemuan-pertemuan kala hujan

(i)

Kita adalah pertemuan-pertemuan di kala langit gelap seluruh;
yang kemarin diberitakan dengan yakin oleh seorang peramal cuaca di televisi.
aku yakin ia yakin dengan apa yang ia yakini;
melebihi keyakinan para ekstrimis-ekstrimis anarkis yang sebelumnya diberitakan.

Tidak seperti mataku matamu, yang terlalu ragu untuk sekedar bertemu;
karena masing-masingnya mabuk sendu, menolak rindu.

Kita adalah pertemuan-pertemuan di kala langit gelap seluruh;
yang sejak sejam lalu berbisik rintik lirih-lirih;
Membicarakan kita, atau barangkali membicarakan kamu saja.
Kalau kau cukup peka, sebenarnya rintik cukup berisik untuk sesuatu yang hanya mampu berbisik.

Tidak seperti mulutku mulutmu, yang bahkan terlalu bisu untuk sekedar berucap;
"aku rindu kamu".

Kita adalah pertemuan-pertemuan di kala langit gelap seluruh;
yang akhirnya lelah melawan, lalu rela mengalah;
menjadi apa seharusnya ia, serbuk hujan, tumpah ruah.

Tidak seperti hatiku hatimu, yang tak kunjung jera menahan kata-kata yang tak terucap.

Pada akhirnya, tak ada aku;
pun kamu;
pula aroma lembab debu-debu kenangan;
tapi dingin hujan.


(ii)

Orang-orang bijak selalu berkata, semuanya mempunyai akhir;
pun pertemuan-pertemuan singkat ini.

Kepada laut kita menunggu;
daur-daur awan untuk kita kembali bertemu.



-Yogyakarta, 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar