Pada suatu hari yang biasa saja, masih dengan
langit yang itu-itu saja, sesuatu terjadi. Ada benih-benih yang datang entah
dari mana, muncul lalu tertanam dan merekonstruksi siklusmu. Semesta kehilangan
aksara, juga suara, untuk menjelaskan. Hanya bersisa benih-benih itu disana.
Akan kau temukan dia—yang mungkin kau tak ingat betul kapan tepatnya kalian bertemu—di hadapanmu, dengan secangkir coklat hangat tergenggam di kedua tangannya, sedang memandangi isi cangkirnya sambil membicarakan sebuah dunia yang belum pernah kau dengar sebelumnya. Dunia yang telah lama tersimpan rapi. Semesta yang disembunyikan dari jangkauan dunia dan orang-orang. Langit biru cerah yang ada di kepalanya. Dunia miliknya.
Pada saat itu kau akan sadar; bibit-bibit itu ialah pertanda. Pertanda yang tak pernah kau duga akan tumbuh ke permukaan. Pertanda yang tumbuh di penantianmu.
Pertanda akan tumbuh dan berkembang dengan cepat, saking cepatnya hingga ia menimbulkan getaran-getaran. Kau merasakannya, getaran-getaran yang tak mampu kau jelaskan maksudnya. Lalu, kau mendapati dirimu ada di dunia yang berbeda, dengan langit yang juga tak sama—kau ada di dalam matanya. Hal-hal asing yang baru kau kenal yang, berkat matanya, baru kau kenal. Tentu ia akan dengan senang hati membagikan padamu kedua matanya, hingga kemudian kau sanggup membaca huruf-huruf semesta yang selama ini luput kau baca, cakrawala yang selama ini kau tidak tahu ada di sana. Kau melihat dunia yang berbeda dari kedua matanya.
Puisi-puisi akan mengalun lebih merdu karena tak lagi merintih sendu, burung-burung kecil akan terbang lebih tinggi dengan sayap yang sama kuat dengan mimpi, cerita-cerita akan tertulis lebih indah karena tak ada alasan untuk mata kembali meleleh.
Pada suatu hari yang biasa saja, masih dengan langit yang itu-itu saja, sesuatu terjadi. Semesta kini memiliki lebih banyak aksara, pula bahasa untuk bersuara. Kau telah mendefinisi ulang siklusmu. Penantian yang telah kau simpan sejak lama, dibayar dengan pertanda. Pertanda yang telah tumbuh dengan pesat menjadi pohon besar yang rimbun. Memberi nafas baru. Hidup baru.
Hari itu akan mengunjungimu. Tanpa terduga. Tak perlu khawatir, karena pada hari itu kau akan memiliki keberanian yang cukup. Karena sungguh, hari itu baru akan datang padamu jika kau telah siap. Dan walaupun jika hari itu mendatangimu dalam bentuk dan detail yang berbeda, tapi tetap akan ada pertanda yang tumbuh disana. Menghidupi. Sabar lah, karena sekarang, penantian-penantianmu belum cukup setimpal membayar harga segenggam benih pertanda.
Sekarang, tugasmu hanyalah menyadari bahwa sebagian nyata dari dirimu adalah kesendirian. Sadari, lalu terimalah kenyataan itu. Selain itu, kau juga harus meraih-raih inti penantian. Kau telah meraih inti dari penantian ketika kau sanggup menerima bahwa: ia adalah hal terbaik yang pernah terjadi, yang belum saatnya terjadi.
Oh, betapa kelak kau ‘kan bersyukur karena telah menanti.
-Yogyakarta, 19 Februari 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar