Jumat, 23 Januari 2015

Perihal Impian

Impian saya adalah daftar-daftar yang terus bertumbuh dan berkembang. Kadang hanya bertumbuh, kadang hanya berkembang, tak jarang mereka berproses seiringan. Selaras dengan perkembangan saya sebagai seorang pribadi. Nadi mereka adalah nadi saya, gersang mereka adalah kemarau saya.

Saya rawat mereka sejak kecil. Pada waktu itu, dengan kepolosan seorang anak-anak, tentu saja. Benih impian ini suka berandai tentang langit, tentang robot yang menyelamatkan dunia dengan senapan laras panjangnya, tentang rumah di mana Ibu berada, dan tentang hal-hal menyenangkan lainnya yang dimungkinkan oleh kepolosan anak-anak.

Semakin bertamabah umur saya, semakin tampaklah wujudnya. Awalnya, ia menemukan tanah tempatnya tumbuh--pada hal-hal kegemaran saya. Lalu ia mulai menunjukkan tanda kehidupannya mulai dari bentuk yang paling sederhana, setunas kecil yang menemukan jalannya menuju permukaan. Walaupun kecil, ia berdiri menantang, seperti mencari.

Seperti yang saya bilang, kami berproses dengan satuan waktu yang sama. Banyak perubahan yang terjadi. Setiap apa yang saya alami, setiap luka dan tawa, setiap saya seakan melayang dalam euforia dan setiap saya berusaha berdiri kembali setelah jatuh, menentukan perubahan yang akan terjadi. Berproses adalah menerima perubahan. Saya kemudian menyadari kebahagiaan dan kesedihan adalah dualitas agung yang adil, dan, seperti perubahan, harus saya terima. Suka atau tidak.

Semakin kemari, saya menyadari satu hal yang juga ikut berubah: cara pandang saya terhadap impian saya. Saya kira, saya yang membuatnya hidup. Ternyata sebaliknya.

Dulu, saya yang merawatnya. Sekarang, impian saya yang menghidupi saya. Mungkin ini terlihat seperti balas budi, tapi melihatnya seperti itu tidaklah tepat. Ini bukan seperti hubungan balas budi. Saya berpikir mungkin hal ini lebih tepat dipandang sebagai sebab-akibat. Karena apa, saya belum mampu menjelaskan. Saya hanya percaya hal ini harus dipahami demikian.

Ketika saya bilang sekarang impian adalah apa yang menghidupi saya, saya bersungguh-sungguh. Kalimat itu bisa dipahami secara implisit dan eksplisit. Walau demikian, ia tetap memiliki kelemahan. Ia bisa merapuh ketika diterpa badai--dalam bentuk apapun--yang menghantamnya keras. Ia bisa mengering karena saya tak benar merawatnya. Akibat buruknya, padahal, saya juga yang merasakan.

Maka merawat impian saya adalah hal yang logis. Ia saya rawat, saya dihidupinya. Tak akan saya biarkan apapun mengusiknya. Apapun. Saya ingin hidup melihat impian saya hidup, tumbuh dan berkembang. Merindang. Untuk itu, saya bersedia membayar apa saja. Apapun.


-Yogyakarta, 23 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar