Sabtu, 18 Agustus 2018

selembar kertas yang dimenangkan seseorang dalam satu perjudian

ada yang menyayat hatinya sendiri setiap malam hingga sebelum subuh lalu menghabiskan sepanjang hari merawat luka itu. diciumnya setiap yang kering pun yang masih terbuka. sebagian darah menempel di lidah (ia mengecapnya dan tidak menemukan kata untuk menjelaskan rasa itu), seperti pengingat bahwa ia memang benar hidup. ia mengalami ini semua. dingin menusuk, tetes demi tetes merah itu tak kunjung berhenti, tubuhnya bergetar semakin kencang.

perihal yang membuatnya menggigil adalah perihal sama yang membuatmu dan mereka mengambil langkah menjauh. hal berikutnya yang ia tahu, ia tenggelam (atau ia sendiri memang melompat ke dalam air?) dengan beban terikat di kaki kemudian menendang dan meronta, panik mencari udara. jangan ulurkan tangan, kata mereka, kalau tak ingin ikut tenggelam.

bulan semakin jauh. seperti terdengar di atas air orang-orang ramai bertaruh uang dan puisi cinta. berapa lama lagi ia bisa menahan napas? pandangnya mengabur.



-yogyakarta, 18 agustus 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar