Minggu, 06 Juli 2014

Kita dan Jembatan Bernama Komunikasi


Kami masih sama-sama terdiam. Saling menduga diam siapa lebih dalam.

Bukannya kami kekurangan sesuatu untuk dikatakan; kami punya terlalu banyak. Barangkali kami sama-sama beranggapan kata tidak berarti banyak sekarang. Toh, diam yang seperti ini sudah cukup menjelaskan perihal yang jika diungkapkan dengan kata-kata akan menghabiskan waktu lama. Juga semakin memangkas habis segala yang selama ini kami rawat. Aku, sebisa mungkin, menghindari hal itu.



Mungkin dia diam karena masih terkejut. Mungkin, sebelumnya, dia berpikir pembicaraan ini akan berkutat di topik seputar aku. Aku pun tidak menyangka pembicaraan ini akan menjadi seperti ini.

Awalnya dia bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi padaku. Kau terlihat khawatir. Aku terdiam sebentar, lalu membalas bertanya apakah kau ingat kapan pertama kali kita bertemu. Tentu saja, jawabmu. Di hari ulang tahunmu yang keduapuluh.

Tidak, aku tidak lupa kapan pertama kali kita bertemu. Pertanyaan itu tidak memintamu untuk memberitahu atau mengingatkan, tidak juga untuk menguji daya ingatmu. Pertanyaan itu aku ucapkan agar, tanpa ku minta, kau dapat mencari ingatan tentang aku dua tahun yang lalu—aku yang belum kenal denganmu. Aku pikir ingatan ini akan membantu memberimu petunjuk-petunjuk untuk menebak apa yang ingin aku katakan.

Aku bertanya lagi, sadarkah kamu kita semakin kuat saling memengaruhi satu sama lain setelah kita berpacaran? Tentu saja, itu bukan hal yang tidak normal dalam suatu hubungan, katamu. Aku mengangguk. Kau terihat semakin bingung, mungkin karena kau mencoba menduga arah pembicaraan ini.

Kau belum menjawab pertanyaanku, ada apa, sih, tanyamu. Tahukah kamu kenapa aku jarang berkumpul dengan teman-temanku akhir-akhir ini, tanyaku, sekali lagi membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan lain. Kau jawab kau tidak tahu, lalu bertanya kenapa. Aku bilang karena aku memikirkan pertanyaan yang sama dengan pertanyaanmu: ada apa dengan diriku? Teman-teman juga menanyakanku hal yang sama. Mereka bilang aku aneh akhir-akhir ini. Mereka sudah mencoba membantu, tapi tidak berarti banyak. Toh akhirnya aku menemukan jawabannya sendiri. Kemudian kau bertanya apakah jawabannya.

Aku terdiam sebentar, lalu menjawab: aku pikir sebaiknya kita cukup sampai di sini saja.

Kini kau ikut terdiam. Air mukamu tiba-tiba menjadi keruh.

Kenapa, tanyamu, lirih. Aku diam. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah, tanyamu. Aku masih diam. Apakah ada orang lain, suaramu mulai bertambah panik. Aku memaksakan diri menatap matanya lekat-lekat selama beberapa detik, berusaha menyampaikan sesuatu, lalu kembali menatap cangkir berisi coklat hangatku. Masih bersembunyi di balik diam yang sama. Kau berusaha menggenggam tanganku kemudian, aku menghindarinya.

Setelahnya, kami mulai sama-sama terdiam.

Selalu butuh beberapa waktu untuk membawa kesadaranku kembali setelah pembicaraan semacam itu. Sekarang, aku mulai bisa merasakan kembali suasana sekelilingku. Lampu kafe yang terlalu redup, sepasang wanita yang sedang berbisik-bisik (dari gerak-geriknya, sepertinya sedang membicarakan kami), coklat hangatku yang sudah tidak hangat, aroma tipis bau parfummu, dan suara dari speaker kafe yang memainkan lagu  Someday milik John Legend. Sudah sampai di verse kedua.

Aku ingat lagu ini. Kau pernah memutar lagu ini. Setelah menunjukannya, kau, seperti biasa, mengomentari lagu ini. Kau kembali berlagak seperti pengamat musik dengan suara yang sedikit dibuat-buat dari biasanya. Kau mulai membicarakan analisamu terhadap John Legend: karakter suaranya, gaya musiknya, kualitas liriknya, influence yang disebabkan, dan lain-lain. Kau mengakhiri analisamu dengan menduga-duga maksud dari lagu ini. Aku, walaupun kesulitan untuk mengerti apa yang kamu katakan, menyukai kamu ketika menjadi pengamat musik seperti itu. Atau mungkin, aku hanya suka mendengar kau mengoceh panjang?

Lagu berakhir. Aku menghela nafas. Kemudian memanggilmu, mengumpulkan keberanian untuk sekali lagi menatap matamu lekat-lekat sambil menggenggam erat tanganmu. Cukup lama. Kemudian aku berdiri, melepaskan genggamanku (dengan sedikit usaha karena kau menggenggamnya amat erat) dan dengan lirih berkata, “Maaf,” lalu meninggalkan kafe ini. Meninggalkan kamu.

Aku berharap setelah itu kau menjadi supir taksi di depan kafe yang kebingungan mendapati penumpangnya masuk sambil berlinangan air mata. Dengan demikian, kau akan bertanya ada apa padaku sekali lagi. Aku pasti akan menceritakannya, sekali bahkan dua kali lagi, dengan bahasa yang lebih mudah kau pahami. Bukan dengan cara bodoh seperti tadi.

****

Setelah sekian lama terpajang di etalase, akhirnya aku dibeli oleh seorang lelaki yang cukup lama melihat-lihat buku tulis lainnya. Aku bisa melihat matanya berbinar saat melihatku. Sebelum aku tertutup oleh bungkus kado yang ia minta dibungkukan padaku, aku melihat senyumnya. Aku tidak ingin dibeli oleh seorang lelaki, sebenarnya. Kata buku jurnal tua yang pernah ada di dekatku saat di gudang, dibeli seorang lelaki bisa berarti kau akan berakhir menumpuk saja di rak atau laci.

Aku dibawa entah ke mana. Dari dalam bungkus, aku hanya bisa mendengar suara mesin mobil. Sepertinya sekarang sudah malam, karena cahaya lampu-lampu kota sering mencoba menembus bungkusku.

Mobil berhenti. Aku dibawa oleh si lelaki, mungkin ke rumahnya. Terdengar suara bel pintu. Setelah pintu dibuka, si lelaki berbicara sebentar kepada seseorang. Seorang wanita tua sepertinya. Lalu aku ditaruh di sesuatu yang sepertinya meja.

Ada suara wanita lagi, bukan wanita yang sama. Yang ini sepertinya lebih muda. Ia mengobrol dengan si lelaki. Pembicaraan mereka sulit terdengar dari dalam, tapi kedengarannya si lelaki mengucapkan kata selamat ulang tahun. Ah! Sepertinya aku akan dihadiahkan pada si wanita, beruntungnya aku.

Aku diambil dari meja lalu berpindah tangan ke tangan yang ukurannya lebih kecil. Bungkusku dibuka. Aku akhirnya melihat wanita yang sepertinya akan jadi pemilikku, entah kenapa matanya sedikit sembab. Kini aku bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Sebentar, kalau ini adalah hari ulang tahun si wanita, kenapa keduanya terlihat tegang? Maksudku, bukan tegang karena menahan rasa bahagia. Ini tegang yang lain.

 “Aku pikir, aku akhirnya tahu apa yang ingin kau katakan waktu itu di kafe. Dengan bersusah payah, tentunya,” kata si lelaki. Sekarang mata si wanita berkaca-kaca.

“Aku pikir kamu merasa jika kamu tak benar-benar mencintaiku,” si lelaki melanjutkan, “ entah bagaimana kau mendapat kesimpulan seperti itu. Di pembicaraan itu, aku teringat kamu yang dulu. Kamu yang lebih sering menyendiri.”

Setelah menghela nafas, si lelaki kembali bicara.

“Ini mungkin juga salahku. Aku terlalu naif. Aku selalu berpikir cinta bisa hadir begitu saja setelah seseorang menghabiskan waktu yang cukup bersama seorang lain. Hal itu terjadi padaku, tetapi, aku pikir, tidak padamu.”

Sekarang si wanita mulai gemetaran. Jika aku punya tangan seperti manusia, aku ingin menampar si wanita ini agar tidak menangis, atau menutupi sampulku dengan tangan-tangan besar itu. Agar sampulku tidak dibasahinya.

“Jika maksudmu waktu itu kau tidak menghendaki kehadiranku lagi di hidupmu, aku bisa terima. Jika maksudmu kau ingin kita kembali berteman saja, aku pun bisa terima. Tentu aku akan menjaga perasaanku, jadi jangan khawatir.”

Si wanita semakin gemetaran.

“Tapi, jika maksudmu kau ingin berpisah karena kau hanya ingin aku ada di sampingmu, padahal kau tidak merasa mencintaiku, dan itu membuatmu merasa bersalah, aku belum bisa terima. Aku belum bisa terima sebelum bertanya satu hal: maukah kau sekali lagi belajar mencintai aku, dengan cara yang tidak sama seperti dulu? Jika kau menjawab iya, aku pun akan kembali belajar mencintaimu. Kita mungkin bisa saling mengoreksi. Saat kau mempunyai sesuatu yang ingin kau katakan, tetapi kau sulit menemukan cara untuk mengungkapkannya, tuliskan saja di buku ini. Beberapa hal mungkin lebih baik dituliskan. Tuliskan saja, karena itu lebih mudah untuk kita daripada seperti waktu itu. Kau tahu, kan, manusia tidak bisa membaca pikiran?”

****

Beberapa minggu setelah hari itu, halamanku sudah hampir terisi setengahnya. Aku sangat bahagia. Tidak hanya dimiliki oleh seorang wanita, aku dimiliki oleh sepasang kekasih yang mau belajar saling mencintai. Dan aku, tanpa sadar, mulai mencintai mereka.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar