Pagi tak bergegas menyusun diri. Ia mengerti betul perihal menikmati dan mencipta seni. Aku, dari kamarku, menghirup napasnya yang lapang.
Koran pagi masih berjejalkan berita buruk yang sama, masih berjubahkan berita baik yang samar. Membaca koran pagi di pagi hari, berdasarkan pendapatku sebelumnya, adalah cara terburuk menikmati pagi hari. Dengan menghapus kata koran di kalimat barusan, kamu berkemungkinan besar mendapat hasil sebaliknya.
Dari jauh, senandung mendung membisukan dedaunan pohon yang diam menghayati. Diundangnya aku oleh mereka untuk ikut mengamati.
Kalau boleh aku mengandaikan diri jadi dedaunan, senandung mendung terdengar merdu hanya ketika mendung saja. Sebenarnya, ketika menghujan pun masih merdu juga, tapi senandungnya akan sulit terdengar. Maksudku, jika tubuhmu hanya sebesar daun dan tak ada atap untuk berteduh, mungkin baru kau akan mengerti kenapa bertemu dengan hujan adalah hal yang merepotkan. Hujan mungkin adalah keributan yang basah bagi dedaunan. Walau demikian, mereka sadar mereka saling membutuhkan (mengetahui dan menyadari, dalam hal ini, adalah dua hal yang tidak bisa secara membabi buta disamakan). Saling menerima bukanlah keputusan yang sulit untuk mereka.
Mendung, melalui jendela kamarku, membaca rasa iriku—yang aku sendiri sulit menemuk.. ah, apakah terpampang dengan jelas di wajahku?—pada mereka: pertemuannya dengan dedaunan pohon tertulis dengan pasti diantara siklus-siklus yang berada dalam jangkauan. Bertemu bukanlah suatu janji yang muluk-muluk. Dan rindu, bagi mereka, hanyalah salah satu fase dari gulir siklus semesta yang adil. Adil, dalam artian, kamu mendapatkan sebanyak apa yang kamu bayar. Lagipula, bukankah demikian cara semesta bekerja? Adil dari sudut pandang yang lebih agung?
Membicarakan semesta adalah membicarakan rahasia dan rencana yang cair, cenderung reaktif. Definisi yang spesifik tentang semesta, menurut saya, adalah hal membabi buta lain yang bisa dilakukan manusia. Rahasia semacam semesta, menurut saya lagi, adalah rahasia yang sudah cantik tanpa perlu lagi diberi bingkai hiasan kata-kata.
Kemudian, di masa depan yang tak teramat jauh, ketika hidup terasa tidak adil, cobalah untuk mengingat bahwa tak ada satu helai pun daun yang tidak termasuk dalam rencana semesta.
Ah, kapan koran pagi kita bolehkan menulis perihal semacam ini?
-Yogyakarta, 15 Juni 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar