Puisi ini dalam genggam pikiran seorang menjelang tidur
Ia hanya ingin tidur dan berpesan tak usah dibangunkan
keesokan paginya. Hendak dipotongnya nadi daur baur
dari semua rasa yang baginya teramat menjemukan
Puisi ini tertahan di ujung lidah seorang ketika jeda
panjang diantara kalimatnya hidup, menggantung
tak menemukan alasan untuk kalah atau mereda
atau sekedar membela akalnya yang melimbung
Puisi ini adalah sisi gelap bulan, bisikan-bisikan
yang didengar seorang ketika malam jelaga;
memaksanya terserak, terjaga tanpa raga
biar bagaimanapun ia menyangkalnya
puisi ini adalah seberkas riak-riak
ketidakberadaan. tapi ia nyata,
sebagaimana makna dan kata
semakin kau baca, semakin
beringas ia memenggal
nafasmu, jengkal
demi jengkal
memagut
merah
bibir
nyawamu
Ia hanya ingin tidur dan berpesan tak usah dibangunkan
keesokan paginya. Hendak dipotongnya nadi daur baur
dari semua rasa yang baginya teramat menjemukan
Puisi ini tertahan di ujung lidah seorang ketika jeda
panjang diantara kalimatnya hidup, menggantung
tak menemukan alasan untuk kalah atau mereda
atau sekedar membela akalnya yang melimbung
Puisi ini adalah sisi gelap bulan, bisikan-bisikan
yang didengar seorang ketika malam jelaga;
memaksanya terserak, terjaga tanpa raga
biar bagaimanapun ia menyangkalnya
puisi ini adalah seberkas riak-riak
ketidakberadaan. tapi ia nyata,
sebagaimana makna dan kata
semakin kau baca, semakin
beringas ia memenggal
nafasmu, jengkal
demi jengkal
memagut
merah
bibir
nyawamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar