Di beranda waktu pagi bermula
kita duduk bersebelahan, masih
dengan kepala setengah terendamdalam igauan, mencari-cari:
siapa penyeduh langit subuh?
kau hela diam dalam-dalam
dan setelah menghembuskannya,
kau, seolah menduga, bilang:
mungkin kicau Burung yang biru itu?
lalu terhirup olehku diammu
kuhembuskan jua
kemudian
kusertakan pula racauan:
atau mungkin Musim yang menguning ini?
hingga memungkinkan mata kita bertemu
kita temukan sesuatu yang, entah bagaimana,
tak asing
hei, yang ternyata mengendap di paru-paru
kita adalah diam yang sama,
yang saling menyimpan:
dasar kau, siapapun yang menyeduh subuh,
sudah pastilah kau mataharinya!
Kembali kita terka-menerka:
Siapa jadi bibir, siapa jadi cangkir?
Saat kita, entah bagaimana, berpagutan
-Yogyakarta, 1 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar