Senin, 27 Mei 2013

Mendukai Luka, Melukai Duka


Kepala-kepala itu mendangak, terlalu malas meraih ujung kata ‘bagaimana dengan aku’ tapi lantang seakan lancar berkelakar ‘ini duka tak peduli walau luka kau pantas dengan neraka’. Kepala-kepala ini kelilipan, hingga tak melihat mata-mata yang lebih basah dari laut. Mata-mata yang di dalamnya waktu mendadak acak. Mata-mata yang sebelumnya lebih hangat dari pertemuan-pertemuan yang kau harap lebih lama, sekarang lebih dingin daripada pualam-pualam pemakaman. Mata-mata yang harus melihat sepasang mata dimana semesta mereka berpusat, menutup lebih cepat, karena kepala-kepala yang haus menghujat.
*
Sungguh, ada batas-batas yang belum kita lewati, belum kita dekati,belum kita sadari. Tapi, terkadang, nafas terlalu tipis, lebih dulu habis sebelum kita mampu memulai. Darah terlalu beku, terlanjur kaku sebelum diri mau menyadari. Ada pula batas-batas yang baru mampu kita iyakan dari batas akhir nafas darah orang lain –tentunya bagi mereka yang memandang tak lebih dari merasa.

Janganlah kepala timpang karena mampu menyebar obituari, buatlah hati merasakan lebih banyak dari yang kita baca.

-Yogyakarta, 26 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar