Kepala-kepala itu mendangak, terlalu malas meraih ujung kata
‘bagaimana dengan aku’ tapi lantang seakan lancar berkelakar ‘ini duka tak
peduli walau luka kau pantas dengan neraka’. Kepala-kepala ini kelilipan,
hingga tak melihat mata-mata yang lebih basah dari laut. Mata-mata yang di
dalamnya waktu mendadak acak. Mata-mata yang sebelumnya lebih hangat dari
pertemuan-pertemuan yang kau harap lebih lama, sekarang lebih dingin daripada pualam-pualam
pemakaman. Mata-mata yang harus melihat sepasang mata dimana semesta mereka
berpusat, menutup lebih cepat, karena kepala-kepala yang haus menghujat.
*
Sungguh, ada batas-batas yang belum kita lewati, belum kita dekati,belum
kita sadari. Tapi, terkadang, nafas terlalu tipis, lebih dulu habis sebelum kita
mampu memulai. Darah terlalu beku, terlanjur kaku sebelum diri mau menyadari. Ada
pula batas-batas yang baru mampu kita iyakan dari batas akhir nafas darah orang
lain –tentunya bagi mereka yang memandang tak lebih dari merasa.
Janganlah kepala timpang karena mampu menyebar obituari, buatlah
hati merasakan lebih banyak dari yang kita baca.
-Yogyakarta, 26 Mei 2013
-Yogyakarta, 26 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar