Sudahkah kau meminum kopi hangat di daun jendela kamarmu pagi ini?
Saya yang menyeduhnya. Katamu itu kopi favoritmu, kopi buatan saya. Kau bilang kopi yang saya seduh misterius dan sukar ditebak. Saya tidak mengerti maksudmu. Tapi saya yakin kali ini rasanya pasti; manis. Saya beri kopi itu gula lebih banyak dari biasanya agar rasanya semanis kenangan.
Sudahkah kau memperbaiki sobekan di sweater hadiah dari ibumu?
Kau sedih karena sweater itu sungguh sehangat pelukan ibumu. Saya juga sedih karena sweater hadiah dari saya malah kau sembunyikan di dalam lemarimu, entah kenapa. Saya mengingatkanmu karena kemarin, menurut ramalan cuaca, cuaca dingin akan datang dan sedikit membuat repot. Jangan jatuh sakit. Segera perbaiki sweatermu, atau cari jaket-jaket hangat lain. Karena sweater dari saya mungkin sudah bolong-bolong dimakan waktu.
Sudahkah kau mencuci pakaianmu?
Iya, saya belum jadi mencucikannya seperti yang kau minta pada saya. Saya harus menulis catatan ini, lalu saya harus membeli koper karena kita hanya punya satu koper. Untuk apa saya beli koper lain, nanti kau akan tahu. Saya juga harus menduplikat kunci motor saya yang kau hilangkan kemarin lusanya. Belum lagi luka-luka lama saya yang harus saya rawat sendiri. Hahaha, iya, saya pintar mencari-cari alasan. Saya akan mengurangi kebiasaan ini, karena saya tidak ingin memunculkan alasan-alasan untuk mengingatmu.
Sudahkah kau mengunjungi karnival di kota?
Malam nanti karnival masih ada. Jika belum kesana, tolong beritahu saya kapan kau akan kesana. Tidak , saya tidak bermaksud mengajakmu kesana bersama saya, saya bermaksud memilih hari lain dari hari kau akan kesana. Tempat itu seharusnya didatangi untuk berbahagia, bukan untuk bernostalgia.
Sudahkah kau mengambil dompetmu yang tertinggal di rumah mantan pacarmu?
Kau adalah orang pintar yang saya kenal yang paling sering meninggalkan barang bawaanmu di tempat orang lain. Kau adalah orang yang mengingat setiap kata dari kalimat pembuka Karl Marx di Communist Manifesto --kau selalu bersikeras Karl Marx tenar karena kalimat pembuka itu--, tapi kau selalu lupa membawa pulang barang-barang bawaanmu.
Saya takut selama ini Karl Marx bersembunyi didalam kalimat pembuka itu, lalu diam-diam malah mendirikan negara kapitalis yang memonopoli kapasitas ingatanmu, lalu merampas rumah saya di ingatanmu. Ah, maksud saya, kau harus adil terhadap ingatanmu. Kau juga harus mengingat hal-hal yang perlu kau ingat, karena saya tidak bisa terus menuliskanmu catatan-catatan pengingat seperti ini. Saya takut jika kau menjadi seperti saya --pengingat dan pelupa sekaligus, yang kecanduan catatan. Saya bahkan hampir lupa jika saya menulis catatan ini agar saya tidak lupa mengambil kembali hati saya dari dalam hatimu.
Sudahkah kau tahu saya seorang egois?
Ini bukan pengingat, tapi saya merasa perlu menyertakan ini dalam catatan. Saya mungkin terlihat sungguh egois, karena saya memang egois. Saya seperti seseorang yang hidup di daerah rawan bencana tapi bersikeras tetap tinggal di rumah yang rentan runtuh; saya memaksa tinggal di sisa-sisa selamat tinggal yang kita ucapkan. Tapi untuk kali ini luka dan akal sehat saya bekerja sama, berbicara lebih keras dan jelas. Saya sadar rumah ini bukan tempat saya seharusnya berada. Rumah ini tidak lebih dari sekedar kenangan. Saya akan membangun rumah saya sendiri. Saya akan menggunakan beberapa bagian dari rumah kita agar rumah saya lebih nyaman dan kokoh kelak, bagi saya dan kamu atau bagi saya dan siapa saja. Waktu akan menjawab.
Sudahkah kau sadar saat kau membaca catatan ini, saya (sudah / sedang dalam perjalanan) pergi?
-Yogyakarta, 17 Mei 2013.
Saya yang menyeduhnya. Katamu itu kopi favoritmu, kopi buatan saya. Kau bilang kopi yang saya seduh misterius dan sukar ditebak. Saya tidak mengerti maksudmu. Tapi saya yakin kali ini rasanya pasti; manis. Saya beri kopi itu gula lebih banyak dari biasanya agar rasanya semanis kenangan.
Sudahkah kau memperbaiki sobekan di sweater hadiah dari ibumu?
Kau sedih karena sweater itu sungguh sehangat pelukan ibumu. Saya juga sedih karena sweater hadiah dari saya malah kau sembunyikan di dalam lemarimu, entah kenapa. Saya mengingatkanmu karena kemarin, menurut ramalan cuaca, cuaca dingin akan datang dan sedikit membuat repot. Jangan jatuh sakit. Segera perbaiki sweatermu, atau cari jaket-jaket hangat lain. Karena sweater dari saya mungkin sudah bolong-bolong dimakan waktu.
Sudahkah kau mencuci pakaianmu?
Iya, saya belum jadi mencucikannya seperti yang kau minta pada saya. Saya harus menulis catatan ini, lalu saya harus membeli koper karena kita hanya punya satu koper. Untuk apa saya beli koper lain, nanti kau akan tahu. Saya juga harus menduplikat kunci motor saya yang kau hilangkan kemarin lusanya. Belum lagi luka-luka lama saya yang harus saya rawat sendiri. Hahaha, iya, saya pintar mencari-cari alasan. Saya akan mengurangi kebiasaan ini, karena saya tidak ingin memunculkan alasan-alasan untuk mengingatmu.
Sudahkah kau mengunjungi karnival di kota?
Malam nanti karnival masih ada. Jika belum kesana, tolong beritahu saya kapan kau akan kesana. Tidak , saya tidak bermaksud mengajakmu kesana bersama saya, saya bermaksud memilih hari lain dari hari kau akan kesana. Tempat itu seharusnya didatangi untuk berbahagia, bukan untuk bernostalgia.
Sudahkah kau mengambil dompetmu yang tertinggal di rumah mantan pacarmu?
Kau adalah orang pintar yang saya kenal yang paling sering meninggalkan barang bawaanmu di tempat orang lain. Kau adalah orang yang mengingat setiap kata dari kalimat pembuka Karl Marx di Communist Manifesto --kau selalu bersikeras Karl Marx tenar karena kalimat pembuka itu--, tapi kau selalu lupa membawa pulang barang-barang bawaanmu.
Saya takut selama ini Karl Marx bersembunyi didalam kalimat pembuka itu, lalu diam-diam malah mendirikan negara kapitalis yang memonopoli kapasitas ingatanmu, lalu merampas rumah saya di ingatanmu. Ah, maksud saya, kau harus adil terhadap ingatanmu. Kau juga harus mengingat hal-hal yang perlu kau ingat, karena saya tidak bisa terus menuliskanmu catatan-catatan pengingat seperti ini. Saya takut jika kau menjadi seperti saya --pengingat dan pelupa sekaligus, yang kecanduan catatan. Saya bahkan hampir lupa jika saya menulis catatan ini agar saya tidak lupa mengambil kembali hati saya dari dalam hatimu.
Sudahkah kau tahu saya seorang egois?
Ini bukan pengingat, tapi saya merasa perlu menyertakan ini dalam catatan. Saya mungkin terlihat sungguh egois, karena saya memang egois. Saya seperti seseorang yang hidup di daerah rawan bencana tapi bersikeras tetap tinggal di rumah yang rentan runtuh; saya memaksa tinggal di sisa-sisa selamat tinggal yang kita ucapkan. Tapi untuk kali ini luka dan akal sehat saya bekerja sama, berbicara lebih keras dan jelas. Saya sadar rumah ini bukan tempat saya seharusnya berada. Rumah ini tidak lebih dari sekedar kenangan. Saya akan membangun rumah saya sendiri. Saya akan menggunakan beberapa bagian dari rumah kita agar rumah saya lebih nyaman dan kokoh kelak, bagi saya dan kamu atau bagi saya dan siapa saja. Waktu akan menjawab.
Sudahkah kau sadar saat kau membaca catatan ini, saya (sudah / sedang dalam perjalanan) pergi?
Untuk itu saya perlu koper dan kunci motor saya. Waktu sudah menjawab satu pertanyaanmu, tunggu ia menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya.
-Yogyakarta, 17 Mei 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar